Beranda > Pendidikan > Penyempurnaan EYD

Penyempurnaan EYD


Mungkin pengunjung merasa agak aneh dengan judul postingan di atas. Masa Ejaan Yang Disempurnakan ( EYD ) masih disempurnakan lagi. Namun kenyataannya memang demikian. Bahasa mengalami perubahan, perbaikan atau penyempurnaan. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa bersifat dinamis namun fleksibel. Berikut saya sertakan lampiran Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 0543a/U/1987 tentang Penyempurnaan “Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan”.

Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia

No. 0543a/U/1987

tentang

Penyempurnaan “Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan”.

MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN,

Membaca          : Surat Kepala Pusat Pembinaan dan Pengem- bangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 6 Desember 1986 No. 5965/F8/UI. 7/86.

Menimbang       : a.  bahwa dengan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 27 Agustus 1975 No. 0196/U/1975 telah ditetapkan peresmian berlakunya “Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan” dan “Pedoman Umum Pembentukan Istitilah”;

b. bahwa sesungguhnya bahasa itu senantiasa berubah dan berkembang sesuai dengan kehidupan masyarakat;

c. bahwa sehubungan dengan hal tersebut pada sub a dan b, dipandang perlu menetapkan penyempurnaan “Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan”.

Mengingat         :   1.   Keputusan Presiden Republik Indonesia:

a. Nomor 44 Tahun 1974;

b. Nomor 52 Tahun 1975;

c. Nomor 45/M Tahun 1983;

d. Nomor 15 Tahun 1984 sebagaimana telah diubah/ ditambah terakhir dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1987;

e. Nomor 138/M Tahun 1985;

2. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 27 Agustus 1975 No. 0196/U/1975.

MEMUTUSKAN:

Menetapkan     :

Pertama             : Menyempurnakan “Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan” sebagaimana tercantum dalam Lampiran I Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 27 Agustus 1975 No. 0196/U/1975 menjadi sebagaimana tercantum dalam Lampiran Keputusan ini.

Kedua                : Hal-hal lain yang belum diatur dalam Keputusan ini akan diatur lebih lanjut dalam ketentuan tersendiri.

Ketiga                : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Jakarta

tanggal 9 September 1987

MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN,

ttd,

Fuad Hassan


PRAKATA

Sejak peraturan ejaan bahasa Melayu dengan huruf Latin ditetapkan pada tahun 1901 berdasarkan rancangan Ch. A. van Ophuysen dengan bantuan Engku Nawawi gelar Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim, penyempurnaannya telah berkali-kali diusahakan. Pada tahun 1938, selama Kongres Bahasa Indonesia yang pertama di Solo, misalnya, disarankan agar ejaan Indonesia lebih banyak diin- ternasionalkan.

Pada tahun 1947 Soewandi, Menteri Pengajaran, Pendidikan dan Kebudayaan pada masa itu, menetapkan dalam surat keputusannya tanggal 19 Maret 1947, No. 264/Bhg. A bahwa perubahan ejaan bahasa Indonesia dengan maksud membuat ejaan yang berlaku menjadi lebih sederhana. Ejaan baru itu oleh masyarakat diberi julukan Ejaan Republik. Beberapa usul yang diajukan oleh panitia menteri itu belum dapat diterima karena masih harus ditinjau lebih jauh lagi. Namun, sebagai langkah pertama dalam usaha penyederhanaan dan penyelarasan ejaan dengan perkembangan bahasa, keputusan Soewandi pada masa pergolakan revolusi itu mendapat sambutan yang baik.

Kongres Bahasa Indonesia Kedua, yang diprakarsai Menteri Moehammad Yamin, diselenggarakan di Medan pada tahun 1954. Masalah ejaan timbul lagi sebagai salah satu mata acara pertemuan itu. Kongres itu mengambil keputusan supaya ada badan yang menyusun peraturan ejaan .praktis bagi bahasa Indonesia. Panitia yang dimaksud (Priyono-Katoppo, Ketua) yang dibentuk oleh Menteri Pengajaran, Pendidikan dan Kebudayaan dengan surat keputusannya tanggal 19 Juli 1956, No. 44876/S, berhasil merumuskan patokan-patokan baru pada tahun 1957 setelah bekerja selama setahun.

Tindak lanjut perjanjian persahabatan antara Republik Indonesia dan Persekutuan Tanah Melayu pada tahun 1959, antara lain berupa usaha mempersamakan ejaan bahasa kedua negara itu. Maka pada akhir tahun 1959 sidang perutusan Indonesia dan Melayu (Slametmuljana-Syed Nasir bin Ismail, Ketua) menghasilkan konsep ejaan bersama yang kemudian dikenal dengan nama Ejaan Melindo (Melayu- Indonesia). Perkembangan politik selama tahun-tahun berikutnya mengurungkan peresmiannya.

Sesuai dengan laju pembangunan nasional, Lembaga Bahasa dan Kesusastraan yang pada tahun 1968 menjadi Lembaga Bahasa Nasional, dan akhirnya pada tahun 1975 menjadi Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, menyusun program pembakuan bahasa Indonesia secara menyeluruh. Di dalam hubungan ini, Panitia Ejaan Bahasa Indonesia Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (A.M. Moeliono, Ketua) yang disahkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Sarino Mangunpranoto, sejak tahun 1966 dalam surat keputusannya tanggal 19 September 1967, No. 062/1967, menyusun konsep yang merangkum segala usaha penyempurnaan yang terdahulu. Konsep itu ditanggapi dan dikaji oleh kalangan luas di seluruh tanah air selama beberapa tahun.

Atas permintaan Ketua Gabungan V Komando Operasi Tertinggi (KOTI), rancangan peraturan ejaan tersebut dipakai sebagai bahan oleh team Ahli Bahasa KOTI yang dibentuk oleh Ketua Gabungan V KOTI dengan surat keputusannya tanggal 21 Februari 1967, No. 011/G-5/II/1967 (S.W. Rujiati Mulyadi, Ketua) dalam pembicaraan mengenai ejaan dengan pihak Malaysia di Jakarta pada tahun 1966 dan di Kuala Lumpur pada tahun 1967.

Dalam Komunike Bersama yang dikeluarkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, Mashuri, dan Menteri Pelajaran Malaysia, Hussein Onn, pada tahun 1972 rancangan tersebut disetujui untuk dijadikan bahan dalam usaha bersama di dalam pengembangan bahasa nasional kedua negara.

Setelah rancangan itu akhirnya dilengkapi di dalam Seminar Bahasa Indonesia di Puncak pada tahun 1972, dan diperkenalkan secara luas oleh sebuah panitia antardepartemen (Ida Bagus Mantra, Ketua) yang ditetapkan dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 20 Mei 1972, No. 03/A.I/72, maka pada hari Proklamasi Kemerdekaan tahun itu juga diresmikanlah aturan ejaan yang baru itu berdasarkan Keputusan Presiden, No.57, tahun 1972, dengan nama Ejaan yang Disempurnakan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menyebarkan buku kecil yang berjudul Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, sebagai patokan pemakaian ejaan itu.

Karena penuntun itu perlu dilengkapi, Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang dibentuk oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan surat keputusannya tanggal 12 Oktober 1972, No. 156/P/1972 (Amran Halim, Ketua), menyusun buku Pedoman Umum ini yang berupa pemaparan kaidah ejaan yang lebih luas.

Penyusunan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan ini telah dimungkinkan oleh tersedianya biaya Pelita II yang disalurkan melalui Proyek Pengembangan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (S. W. Rujiati Mulyadi, Ketua). Pencetakan Pedoman Umum. ini dilaksanakan oleh Proyek Penulisan dan Penerbitan Buku/Majalah Pengetahuan dan Profesi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Subekti Dhirdjosaputro, Ketua).

Kepada segenap instansi, kalangan masyarakat, dan perseorangan yang telah memungkinkan tersusunnya Pedoman Umum ini disampaikan penghargaan dan terima kasih.

Jakarta, Agustus 1975

Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia

Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA


I. PEMAKAIAN HURUF

A.    Huruf Abjad

Abjad yang digunakan dalam ejaan bahasa Indonesia terdiri atas huruf yang berikut. Nama tiap huruf disertakan di sebelahnya.

Huruf

Nama

Huruf

Nama

Huruf

Nama

A

B

C

D

E

F

G

H

I

a

b

c

d

e

f

g

h

i

a

be

ce

de

e

ef

ge

ha

i

J

K

L

M

N

O

P

Q

R

j

k

l

m

n

o

p

q

r

je

ka

el

em

en

o

pe

ki

er

S

T

U

V

W

X

Y

Z

s

t

u

v

w

x

y

z

es

te

u

fe

we

eks

ye

zet

B.    Huruf Vokal

Huruf yang melambangkan vokal dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf a, e, i, o, dan u.

Huruf Vokal

Contoh Pemakaian dalam Kata

Di Awal

Di Tengah

Di Akhir

a

e*

i

o

u

api

enak

emas

itu

oleh

ulang

padi

petak

kena

simpan

kota

bumi

lusa

sore

tipe

murni

radio

ibu

*Dalam pengajaran lafal kata, dapat digunakan tanda aksen jika ejaan kata menimbulkan keraguan.

Misalnya:

Anak-anak bermain di teras (téras).

Upacara itu dihadiri pejabat teras pemerintah.

Kami menonton fi1m seri (séri).

Pertandingan itu berakhir seri.

C.    Huruf Konsonan

Huruf yang melambangkan konsonan dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf-huruf b, c, d, f, g, h, j, k, I, m, n, p, q, 1; s, t, v, w, x, y, dan z.

Huruf Konsonan

Contoh Pemakaian dalam Kata

Di Awal

Di Tengah

Di Akhir

b

c

d

f

g

h

j

k

l

m

n

p

q**

r

s

t

v

w

x**

y

z

bahasa

cakap

dua

fakir

guna

hari

jalan

kami

-

lekas

maka

nama

pasang

Quran

raih

sampai

tali

varia

wanita

xenon

yakin

zeni

sebut

kaca

ada

kafir

tiga

saham

manja

paksa

rakyat*

alas

kami

anak

apa

furqan

bara

asli

mata

lava

hawa

-

payung

lazim

adab

-

abad

maaf

balig

tuah

mikraj

sesak

bapak*

kesal

diam

daun

siap

-

putar

lemas

rapat

-

-

-

-

juz

*    Huruf k di sini melambangkan bunyi hamzah.

* * Huru q dan x digunakan khusus untuk nama dan keperluan 1lmu.

D.    Huruf Diftong

Di dalam bahasa Indonesia terdapat diftong yang dilambangkan dengan ai, au, dan oi.

Huruf Diftong

Contoh Pemakaian dalam Kata

Di Awal

Di Tengah

Di Akhir

ai

au

oi

ain

aula

-

syaitan

saudara

boikot

pandai

harimau

amboi

E.    Gabungan Huruf Konsonan

Di dalam bahasa Indonesia terdapat empat gabungan huruf yang melambangkan konsonan, yaitu kh, ng, ny, dan sy.

Gabungan Huruf Konsonan

Contoh Pemakaian dalam Kata

Di Awal

Di Tengah

Di Akhir

kh

ng

ny

sy

khusus

ngilu

nyata

syarat

akhir

bangun

hanyut

isyarat

tarikh

senang

-

arasy

F. Pemenggalan Kata***

  1. Pemenggalan kata pada kata dasar dilakukan sebagai berikut.
    1. Jika di tengah kata ada vokal yang berurutan, pemenggalan itu dilakukan di antara kedua huruf vokal itu. Misalnya: ma-in, sa-at, bu-ah

Huruf diftong ai, au, dan oi tidak pernah diceraikan sehingga pemenggalan kata tidak dilakukan di antara kedua huruf itu.

Misalnya:

au-la                      bukan                    a-u-la

sau-da-ra              bukan                    sa-u-da-ra

am-boi                   bukan                    am-bo-i

  1. Jika di tengah kata ada huruf konsonan, termasuk gabungan-huruf konsonan, di antara dua buah huruf vokal, pemenggalan dilakukan sebelum huruf konsonan.

Misalnya:

ba-pak                   ba-rang                 su-lit

la-wan                   de-ngan                 ke-nyang

mu-ta-khir

  1. Jika di tengah kata ada dua huruf konsonan yang berurutan, pemenggalan dilakukan di antara kedua huruf konsonan itu. Gabungan-huruf konsonan tidak pernah diceraikan.

Misalnya:

man-di                   som-bong             swas-ta

cap-lok                  Ap-ril                     bang-sa

makh-luk

  1. Jika di tengah kata ada tiga buah huruf konsonan atau lebih, pemenggalan dilakukan di antara huruf konsonan yang pertama dan huruf konsonan yang kedua.

Misalnya:

in-stru-men                                          ul-tra

in-fra                                                     bang-krut

ben-trok                                                ikh-las

  1. Imbuhan akhiran dan imbuhan awalan, termasuk awalan yang mengalami perubahan bentuk serta partikel yang biasanya ditulis serangkai dengan kata dasarnya, dapat dipenggal pada pergantian baris.

Misalnya:

makan-an                                            me-rasa-kan

mem-bantu                                          pergi-lah

Catatan:

  1. Bentuk dasar pada kata turunan sedapat-dapatnya tidak dipenggal.
  2. Akhiran -i tidak dipenggal. (Lihat juga keterangan tentang tanda hubung, Bab V, Pasal E., Ayat 1.)
  3. Pada kata yang berimbuhan sisipan, pemenggalan kata dilakukan sebagai berikut.

Misalnya:

te-lun-juk

si-nam-bung

ge-li-gi

  1. Jika suatu kata terdiri atas lebih dari satu unsur dan salah satu unsur itu dapat bergabung dengan unsur lain, pemenggalan dapat dilakukan (1) di antara unsur-unsur itu atau (2) pada unsur gabungan itu sesuai dengan kaidah la, 1b, 1c, dan 1d di atas.

Misalnya:

bio-grafi                                                bi-o-gra-fi

foto-grafi                                              fo-to-gra-fi

intro-speksi                                          in-tro-spek-si

kilo-gram                                              ki-lo-gram

kilo-meter                                             ki-lo-me-ter

pasca-panen                                        pas-ca-pa-nen

Keterangan:

Nama orang, badan hukum, dan nama diri yang lain disesuaikan dengan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan kecuali jika ada pertimbangan khusus.

II. PEMAKAIAN HURUF KAPITAL DAN HURUF MIRING

1. Pemakaian Huruf Kapital atau Huruf Besar

a. Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat.

Misalnya:

Dia mengantuk.

Apa maksudnya?

Kita harus bekerja keras.

Pekerjaan itu belum selesai.

b. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.

Misalnya:

Adik bertanya, ” Kapan kita pulang?”

Bapak menasihatkan, “Berhati-hatilah, Nak!”

“Kemarin engkau terlambat,” katanya.

” Besok pagi,” kata Ibu, “dia berangkat.”

c. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab suci, termasuk kata ganti untuk Tuhan.

Misalnya:

Allah                                            Alkitab                         Islam

Yang Mahakuasa .                    Quran                          Kristen

Yang Maha Pengasih                Weda

Tuhan akan menunjukkan jalan yang benar kepada hamba-Nya.

Bimbinglah hamba-Mu, ya Tuhan, ke jalan yang Engkau beri rahmat.

d. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.

Misalnya:

Mahaputra Yamin

Sultan Hasanudin

Haji Agus Salim

Imam Syafii

Nabi Ibrahim

e. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang tidak diikuti nama orang.

Misalnya:

Dia baru saja diangkat menjadi sultan.

Tahun ini ia pergi naik haji.

f. Huruf  kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat.

Misalnya:

Wakil Presiden Adam Malik

Perdana Menteri Nehru

Profesor Supomo

Laksamana Muda Udara Husein Sastranegara

Sekretaris Jenderal Departemen Pertanian

Gubernur Irian Jaya

g. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang tidak diikuti nama orang, atau nama tempat.

Misalnya:

Siapa gubernur yang baru dilantik itu?

Kemarin Brigadir Jenderal Ahmad dilantik menjadi mayor jenderal.

h. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama orang.

Misalnya:

Amir Hamzah

Dewi Sartika

Wage Rudolf Supratman

Halim Perdanakusumah

Ampere

i. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran.

Misalnya:

mesin diesel

10 volt

5 ampere

j. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.

Misalnya:

bangsa Indonesia

suku Sunda

bahasa Inggris

k. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa yang dipakai sebagai bentuk dasar kata turunan.

Misalnya:

mengindonesiakan kata asing

keinggris-inggrisan

l. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah.

Misalnya:

bulan Agustus                         hari Natal

bu1an Maulid                         perang Candu

hari Galungan                         tahun Hijriah

hari Jumat                               tarikh Masehi

hari Lebaran

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

m. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak dipakai sebagai nama.

Misalnya:

Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsanya.

Perlombaan senjata membawa risiko pecahnya perang dunia.

n. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi.

Misalnya:

Asia Tenggara                                      Kali Brantas

Banyuwangi                                        Lembah Baliem

Bukit Barisan                                       Ngarai Sianok

Cirebon                                                 Pegunungan Jayawijaya

Danau Toba

Dataran Tinggi Dieng                         Selat Lombok

Gunung Semeru                                  Tanjung Harapan

Jalan Diponegoro                               Teluk Benggala

Jazirah Arab                                        Terusan Suez

o. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama istilah geografi yang tidak menjadi unsur nama diri.

Misalnya:

berlayar ke teluk

mandi di kali

menyeberangi selat

pergi ke arah tenggara

p. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama geografi yang digunakan sebagai nama jenis.

Misalnya:

garam inggris

gula jawa

kacang bogor

pisang ambon

q. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama negara, lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi kecuali kata seperti dan.

Misalnya:

Republik Indonesia

Majelis Permusyawaratan Rakyat

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Badan Kesejahteraan Ibu dan Anak

Keputusan Presiden Republik Indonesia, Nomor 57, Tahun 1972

r. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata yang bukan nama resmi negara, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan, serta nama dokumen resmi.

Misalnya:

menjadi sebuah republik

beberapa badan hukum

kerja sama antara pemerintah dan rakyat

menurut undang-undang yang berlaku

s. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama badan, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta dokumen resmi.

Misalnya:

Perserikatan Bangsa-Bangsa

Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial

Undang-Undang Dasar Republik Indonesia

Rancangan Undang-Undang Kepegawaian

t. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata u1ang sempurna) di dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judu1 karangan, kecuali kata seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk yang tidak terletak pada posisi awal.

Misalnya:

Saya telah membaca buku Dari Ave Maria ke Jalan

Lain ke Roma.

Bacalah majalah Bahasa dan Sastra.

Dia adalah agen surat kabar Sinar Pembangunan.

la menyelesaikan makalah ” Asas-Asas Hukum Perdata”.

u. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan.

Misalnya:

Dr. doktor

M.A. master of arts

S.H. sarjana hukum

S.S. sarjana sastra

Prof. profesor

Tn. tuan

Ny. nyonya

Sdr. saudara

v. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman yang dipakai dalam penyapaan dan pengacuan.

Misalnya:

“Kapan Bapak berangkat?” tanya Harto.

Adik bertanya, “Itu apa, Bu?”

Surat Saudara sudah saya terima.

“Silakan duduk, Dik!” kata Ucok.

Besok Paman akan datang.

Mereka pergi ke rumah Pak Camat.

Para ibu mengunjungi Ibu Hasan.

w. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang tidak dipakai dalam pengacuan atau penyapaan.

Misalnya:

Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.

Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga.

x. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata ganti Anda.

Misalnya:

Sudahkah Anda tahu?

Surat Anda telah kami terima.

B.      Huruf Miring

  1. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan.

Misalnya:

majalah Bahasa dan Kesusastraan

buku Negarakertagama karangan Prapanca

surat kabar Suara Karya

  1. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata.

Misalnya:

Huruf pertama kata abad ialah a.

Dia bukan menipu, tetapi ditipu.

Bab ini tidak membicarakan penulisan huruf kapital.

Buatlah kalimat dengan berlepas tangan.

  1. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata nama ilmiah atau ungkapan asing kecuali yang telah disesuaikan ejaannya.

Misalnya:

Nama ilmiah buah manggis ialah Carcinia mangostana.

Politik divide et impera pernah merajalela di negeri ini.

Weltanschauung antara lain diterjemahkan menjadi ‘pandangan dunia’.

Tetapi:

Negara itu telah mengalami empat kali kudeta.

Catatan:

Dalam tulisan tangan atau ketikan, huruf atau kata yang akan dicetak miring diberi satu garis di bawahnya.


III. PENULISAN KATA

A.      Kata Dasar

Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan.

Misalnya:

Ibu percaya bahwa engkau tahu.

Kantor pajak penuh sesak.

Buku itu sangat tebal.

  1. Kata Turunan
    1. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya.

Misalnya:

bergeletar

dikelola

penetapan

menengok

mempermainkan

  1. Jika bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya. (Lihat juga keterangan  tentang tanda hubung, Bab V, Pasal E, Ayat 5.)

Misalnya:

bertepuk tangan                              garis bawahi

menganak sungai                            sebar luaskan

  1. Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai. (Lihat juga keterangan tentang tanda hubung, Bab V; Pasal E, Ayat 5.)

Misalnya:

menggarisbawahi menyebarluaskan

dilipatgandakan penghancurleburan

  1. Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai.

Misalnya:

adipati                                               mahasiswa

aerodinamika                                  mancanegara

antarkota                                          multilateral

anumerta                                          narapidana

audiogram                                        nonkolaborasi

awahama                                          Pancasila

bikarbonat                                        panteisme

biokimia                                            paripurna

caturtunggal                                     poligami

dasawarsa                                         pramuniaga

dekameter                                         prasangka

demoralisasi                                     purnawirawan

dwiwarna                                          reinkarnasi

ekawarna                                          saptakrida

ekstrakurikuler                                 semiprofesional

elektroteknik                                    subseksi

infrastruktur                                     swadaya

inkonvensional                                telepon

introspeksi                                        transmigrasi

kolonialisme tritunggal

kosponsor                                          utramodern

Catatan:

(1)       Jika bentuk terikat diikuti oleh kata yang huruf awalnya adalah huruf kapital, di antara kedua unsur itu dituliskan tanda hubung (-).

Misalnya:

non-Indonesia                        pan-Afrikanisme

(2)       Jika kata maha sebagai unsur gabungan diikuti oleh kata esa dan kata yang bukan kata dasar, gabungan itu ditulis terpisah.

Misalnya:

Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Esa melindungi kita.

Marilah kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.

  1. Bentuk Ulang

Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung.

Misalnya:

anak-anak                                        gerak-gerik

biri-biri                                               huru-hara

buku-buku                                        lauk-pauk

bumiputera-bumiputera                 mondar-mandir

centang-perenang                            porak-poranda

hati-hati                                             ramah-tamah

hulubalang-hulubalang                  sayur-mayur

kuda-kuda                                        tukar-menukar

kupu-kupu                                        tunggang-langgang

kura-kura                                          terus-menerus

laba-laba                                           berjalan-jalan

mata-mata                                       menulis-nulis

sia-sia                                                 dibesar-besarkan

undang-undang

  1. Gabungan Kata
    1. Gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, unsur-unsurnya ditulis terpisah.

Misalnya:

duta besar                                         mata pelajaran

orang tua                                           simpang empat

kambing                                            hitam meja tulis

persegi panjang                                kereta api cepat luar biasa

model linear                                      rumah sakit umum

  1. Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan kesalahan pengertian, dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian di antara unsur yang bersangkutan.

Misalnya:

alat pandang-dengar buku sejarah-baru

ibu-bapak kami                               orang-tua muda

anak-istri saya                                 mesin-hitung tangan

watt-jam

  1. Gabungan kata berikut ditulis serangkai.

Misalnya:

acapkali                                            manakala

adakalanya                                      manasuka

akhirulkalam                                    mangkubumi

alhamdulillah                                   matahari

astagfirullah                                     olahraga

bagaimana                                       padahal

barangkali                                         paramasastra

beasiswa                                            peribahasa

belasungkawa                                  puspawarna

bilamana                                           radioaktif

bismillah                                            saptamarga

bumiputra                                         saputangan

daripada                                            saripati

darmabakti                                       sebagaimana

darmasiswa                                      sediakala

darmawisata                                    segitiga

dukacita                                            sekalipun

halalbihalal                                       silaturahmi

hulubalang                                        sukacita

kacamata                                         sukarela

kasatmata                                        sukaria

kepada                                              syahbandar

keratabasa                                        titimangsa

kilometer                                           wasalam

  1. Kata Ganti -ku, kau-, -mu, dan -nya

Kata ganti ku- dan kau- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya; -ku, -mu, dan -nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.

Misalnya:

Apa yang kumiliki boleh kauambil.

Bukuku, bukumu, dan bukunya tersimpan di perpustakaan.

  1. Kata Depan di, ke, dan dari

Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada. (Lihat juga Bab III, Pasal D, Ayat 3.)

Misalnya:

Kain itu terletak di dalam lemari.

Bermalam semalam di sini.

Di mana Siti sekarang?

Mereka ada di rumah.

Ia ikut terjun ke tengah kancah perjuangan.

Ke mana saja ia selama ini?

Kita perlu berpikir sepuluh tahun ke depan.

Mari kita berangkat ke pasar.

Saya pergi ke sana-sini mencarinya.

Ia datang dari Surabaya kemarin.

Catatan:

Kata-kata yang dicetak miring di bawah ini ditulis serangkai.

Si Amin lebih tua daripada Si Ahmad.

Kami percaya sepenuhnya kepada kakaknya.

Kesampingkan saja persoalan yang tidak penting.

Ia masuk, lalu keluar lagi.

Surat perintah itu dikeluarkan di Jakarta pada tanggal 11 Maret 1966.

Bawa kemari gambar itu.

Kemarikan buku itu.

Semua orang terkemuka di desa itu hadir dalam kenduri itu.

  1. Kata si dan sang

Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.

Misalnya:

Harimau itu marah sekali kepada sang Kancil.

Surat itu dikirimkan kepada si pengirim.

H.        Partikel

  1. Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.

Misalnya:

Bacalah buku itu baik-baik.

Jakarta adalah ibukota Republik Indonesia.

Apakah yang tersirat dalam surat itu?

Siapakah gerangan dia?

Apatah gunanya bersedih hati?

  1. Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.

Misalnya:

Apa pun yang dimakannya, ia tetap kurus.

Hendak Pulang pun sudah tak ada kendaraan.

Jangankan dua kali, satu kali pun engkau belum pernah datang ke rumahku.

Jika ayah pergi, adik pun ingin pergi.

Catatan:

Kelompok yang lazim dianggap padu, misalnya adapun, andaipun, ataupun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun, sekalipun, sungguhpun, dan walaupun ditulis serangkai.

Misalnya:

Adapun sebab-sebabnya belum diketahui.

Bagaimanapun juga akan dicobanya menyelesaikan tugas itu.

Baik Para mahasiswa maupun mahasiswi ikut berdemonstrasi.

Sekalipun belum memuaskan, hasil pekerjaan dapat dijadikan pegangan.

Walaupun miskin, ia selalu gembira.

  1. Partikel per yang berarti ‘mulai’, ‘demi’, dan ‘tiap’ ditulis terpisah dari bagian kalimat yang mendahului atau mengikutinya.

Misalnya:

Pegawai negeri mendapat kenaikan gaji per 1 April.

Mereka masuk ke dalam ruangan satu per satu.

Harga kain itu Rp2.000,00 per helai.

  1. Singkatan dan Akronim
    1. Singkatan ialah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih.
      1. Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti dengan tanda titik.

Misalnya:

A.S. Kramawijaya

Muh. Yamin

Suman Hs.

Sukanto S.A.

M.B.A.                      master of business administration

M.Sc.                        master of science

S.E.                            sarjana ekonomi

S.Kar.                       sarjana karawitan

S.K.M.                      sarjana kesehatan masyarakat

Bpk.                          Bapak

Sdr.                            Saudara

Kol.                           Kolonel

  1. Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama, dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf kapital dan tidak diikuti dengan tanda titik.

Misalnya:

DPR                          Dewan Perwakilan Rakyat

PGRI                         Persatuan Guru Republik Indonesia

GBHN                      Garis-Garis Besar Haluan Negara

SMTP                       sekolah menengah tingkat pertama

PT                              perseroan terbatas

KTP                          kartu tanda pengenal

  1. Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik.

Misalnya:

dll.                             dan lain-lain

dsb.                           dan sebagainya

dst.                            dan seterusnya

hlm.                           halaman

sda.                           sama dengan atas

Yth.                           Yang terhormat

Tetapi:

a.n.                            atas nama

d.a.                            dengan alamat

u.b.                            untuk beliau

u.p.                            untuk perhatian

  1. Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik.

Misalnya:

Cu                             kuprum

TNT                          trinitrotoluen

cm                             sentimeter

kVA                          kilovolt-ampere

l                                  liter

kg                              kilogram

Rp                             rupiah

  1. Akronim ialah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang diperlakukan sebagai kata.
    1. Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf kapital.

Misalnya:

ABRI                        Angkatan Bersenjata Republik Indonesia

LAN                          Lembaga Administrasi Negara

PASI                         Persatuan Atletik Seluruh Indonesia

IKIP                          Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan

SIM                           surat izin mengemudi

  1. Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kapital.

Misalnya:

Akabri                Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia

Bappenas          Badan Perencanaan Pembangunan Nasional

Iwapi                  Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia

Kowani              Kongres Wanita Indonesia

Sespa                  Sekolah Staf Pimpinan Administrasi

  1. Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata seluruhnya ditulis dengan huruf kecil.

Misalnya:

pemilu                      pemilihan umum

radar                         radio detecting and ranging

rapim                        rapat pimpinan

rudal                         peluru kendali

tilang                         bukti pelanggaran

Catatan:

Jika dianggap perlu membentuk akronim, hendaknya diperhatikan syarat-syarat berikut. (1) Jumlah suku kata akronim jangan melebihi jumlah suku kata yang lazim pada kata Indonesia. (2) Akronim dibentuk dengan mengindahkan keserasian kombinasi vokal dan konsonan yang sesuai dengan pola kata Indonesia yang lazim.

  1. Angka dan Lambang Bilangan
    1. Angka dipakai untuk menyatakan lambang bilangan atau nomor. Di dalam tulisan lazim digunakan angka Arab atau angka Romawi.

Angka Arab             : 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9

Angka Romawi      : I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X,

L (50), C (100), D (500), M (1.000),

V (5.000), M (l.000.000)

Pemakaiannya diatur lebih lanjut dalam pasal-pasal yang berikut ini.

  1. Angka digunakan untuk menyatakan (i) ukuran panjang, berat, luas, dan isi, (ii) satuan waktu, (iii) nilai uang, dan (iv) kuantitas.

Misalnya:

0,5 sentimeter                1 jam 20 menit

5 kilogram                      pukul 15.00

4 meter persegi              tahun 1928

10 liter                             17 Agustus 1945

Rp5.000,00                    50 dolar Amerika

US$3.50*                       10 paun Inggris

$5.10*                            100 yen

Y100                               10 persen

2.000 rupiah                  27 orang

*Tanda titik di sini merupakan tanda desimal.

  1. Angka lazim dipakai untuk melambangkan nomor jalan, rumah, apartemen, atau kamar pada alamat.

Misalnya:

Jalan Tanah Abang I No.15

Hotel Indonesia, Kamar 169

  1. Angka digunakan juga untuk menomori bagian karangan dan ayat kitab suci.

Misalnya:

Bab X, Pasal 5, halaman 252

Surah Yasin: 9

  1. Penulisan lambang bilangan dengan huruf dilakukan sebagai berikut.
    1. Bilangan utuh

Misalnya:

dua belas 12

dua puluh dua 22

dua ratus dua puluh dua 222

  1. Bilangan pecahan

Misalnya:

setengah                               1/2

tiga perempat                      3/4

seperenam belas                 1/16

tiga dua pertiga                   32/3

seperseratus                         1/100

satu persen                           1%

satu permil                           10/00

satu dua persepuluh           1,2

  1. Penulisan lambang bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara yang berikut.

Misalnya:

Paku Buwono X

Paku Buwono ke-10

Paku Buwono kesepuluh

Bab II

Bab ke-2

Abad XX

Abad ke-20

Abad kedua puluh

Tingkat V

Tingkat ke-5

Tingkat kelima

  1. Penulisan lambang bilangan yang mendapat akhiran –an mengikuti cara yang berikut. (Lihat juga keterangan tentang tanda hubung, Bab V, Pasal E, Ayat 5.)

Misalnya:

tahun ’50-an atau              tahun lima puluhan

uang 5000-an atau              uang lima ribuan

uang lima 1000-an atau              uang lima seribuan

  1. Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf kecuali jika beberapa lambang bilangan dipakai secara berurutan, seperti dalam perincian dan pemaparan.

Misalnya:

Amir menonton drama itu sampai tiga kali.

Ayah memesan tiga ratus ekor ayam.

Di antara 72 anggota yang hadir, 52 orang setuju, 15 orang tidak setuju, dan 5 orang memberikan suara blangko.

Kendaraan yang ditempah untuk angkutan umum terdiri atas 50 bus, 100 helicak, 100 bemo.

  1. Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu, susunan kalimat diubah sehingga bilangan yang tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata tidak terdapat pada awal kalimat.

Misalnya:

Lima belas orang tewas dalam kecelakaan itu.

Pak Darmo mengundang 250 orang tamu.

Bukan:

15 orang tewas dalam kecelakaan itu.

250 orang tamu diundang Pak Darmo.

Dua ratus lima puluh orang diundang Pak Darmo.

  1. Angka yang menunjukkan bilangan utuh yang besar dapat dieja sebagian supaya lebih mudah dibaca.

Misalnya:

Perusahaan itu baru saja mendapat pinjaman 250 juta rupiah.

Penduduk Indonesia berjumlah lebih dari 120 juta orang.

  1. Bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks kecuali di dalam dokumen resmi seperti akta dan kuitansi.

Misalnya:

Kantor kami mempunyai dua puluh orang pegawai.

Di lemari itu tersimpan 805 buku dan majalah.

Bukan:

Kantor kami mempunyai 20 (dua puluh) orang pegawai.

Di lemari itu tersimpan 805 (delapan ratus lima) buku dan majalah.

  1. Jika bilangan dilambangkan dengan angka dan huruf, penulisannya harus tepat.

Misalnya:

Saya lampirkan tanda terima uang sebesar Rp999,75 (sembilan ratus sembilan puluh sembilan dan tujuh puluh lima perseratus rupiah)

Saya lampirkan tanda terima uang sebesar 999,75 (sembilan ratus sembilan puluh sembilan dan tujuh puluh lima perseratus) rupiah.


IV. PENULISAN UNSUR SERAPAN

Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia menyerap unsur dari pelbagai bahasa lain, baik dari bahasa daerah maupun dari bahasa asing seperti Sanskerta, Arab, Portugis, Belanda, atau Inggris.

Berdasarkan taraf integrasinya, unsur pinjaman dalam bahasa Indonesia dapat dibagi atas dua golongan besar.

Pertama, unsur pinjaman yang belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa Indonesia, seperti reshuffle, shuttle cock, l’exploitation de l’homme. Unsur-unsur ini dipakai dalam konteks bahasa Indonesia, tetapi pengucapannya masih mengikuti cara asing.

Kedua, unsur pinjaman yang pengucapan dan penulisannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. Dalam hal ini diusahakan agar ejaannya hanya diubah seperlunya sehingga bentuk Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan bentuk asalnya.

Kaidah ejaan yang berlaku bagi unsur serapan itu ialah sebagai berikut.

aa (Belanda)             menjadi             a

paal                                                    pal

baal                                                    bal

octaaf                                                oktaf

ae tetap ae jika tidak bervariasi dengan e

aerobe aerob

aerodinamics                                   aerodinamika

ae, jika bervariasi dengan e, menjadi e

haemoglobin                                    hemoglobin

haematite hematit

ai tetap ai

trailer                                                 trailer

caisson kaison

au tetap au

audiogram audiogram

autotroph autotrof

tautomer tautomer

hydraulic                                           hidraulik

caustic kaustik

c di muka a, u, o, dan konsonan menjadi k

calomel                                             kalomel

construction                                     konstruksi

cubic kubik

coup kup

classification                                    klasifikasi

crystal                                                kristal

c di muka e, i, oe, dan y menjadi s

central                                               sentral

cent                                                    sen

cybernetics                                       sibernetika

cyrculation                                       sirkulasi

cylinder                                             silinder

coelom                                              selom

cc di muka o, u, dan konsonan menjadi k

accomodation                                 akomodasi

acculturation                                    akulturasi

acclimatization                                aklimatisasi

accumulation                                   akumulasi

acclamation                                     aklamasi

cc di muka e dan i menjadi ks

accent                                                aksen

accesory                                            aksesori

vaccine vaksin

cch dan ch di muka a, o, dan konsonan menjadi k

saccharin sakarin

charisma karisma

cholera kolera

chromosome kromosom

technique teknik

ch yang lafalnya s atau sy menjadi s

echelon eselon

machine mesin

ch yang lafalnya c menjadi c

check cek

China Cina

ç (Sanskerta) menjadi s

çabda sabda

çastra                                                 sastra

e tetap e

effect                                                 efek

description                                        deskripsi

synthesis                                           sintesis

ea tetap ea

idealist idealis

habeas habeas

ee (Belanda) menjadi e

stratosfeer                                         stratosfer

systeem                                             sistem

ei tetap ei

eicosane                                            eikosan

eidetic                                                eidetik

einsteinium                                       einsteinium

eo tetap eo

stereo stereo

geometry                                           geometri

zeolite                                                zeolit

eu tetap eu

neutron                                              neutron

eugenol                                              eugenol

europium                                          europium

f tetap f

fanatic                                               fanatik

factor                                                 faktor

fossil                                                   fosil

gh menjadi g

sorghum sorgum

gue menjadi ge

igue ige

gigue gige

i pada awal suku kata di muka vokal, tetap i

iambus                                              iambus

ion                                                      ion

iota                                                    iota

ie (Belanda) menjadi  i jika lafalnya i

politiek                                              politik

riem                                                   rim

ie tetap ie jika lafalnya bukan i

variety                                               varietas

patient                                               pasien

effitient                                             efisien

kh (Arab) tetap kh

khusus khusus

akhir akhir

ng tetap ng

contingent                                        kontingen

congres kongres

linguistics                                          linguistik

oe (oi Yunani) menjadi e

oestrogen                                          estrogen

oenology                                           enologi

foetus                                                fetus

oo (Belanda) menjadi o

komfoor                                            kompor

provoost                                            provos

oo (Inggris) menjadi u

cartoon                                              kartun

proof                                                  pruf

pool                                                    pul

oo (vokal ganda) tetap oo

zoology                                             zoologi

coordination                                     koordinasi

ou menjadi u jika lafalnya u

gouverneur                                       gubernur

coupon                                              kupon

contour                                              kontur

ph menjadi f

phase                                                 fase

physiologi                                         fisiologi

spectograph spektograf

ps tetap ps

pseudo pseudo

psychiatry                                         psikiatri

psychosomatic    psikosomatik

pt tetap pt

pterosaur                                           pterosaur

pteridology                                       pteridologi

ptyalin                                               ptialin

q menjadi k

aquarium                                          akuarium

frequency                                         frekuensi

equator                                              ekuator

rh menjadi r

rhapsody                                          rapsodi

rhombus rombus

rhythm ritme

rhetoric                                              retorika

sc di muka a, o, u, dan konsonan menjadi sk

scandium skandium

scotopia skotopia

scutella skutela

sclerosis                                             sklerosis

scriptie                                               skripsi

sc di muka e, i, dan y menjadi s

scenography                                     senografi

scintillation                                       sintilasi

scyphistoma                                     sifistoma

sch di muka vokal menjadi sk

schema                                              skema

schizophrenia                                  skizofrenia

scholasticism                                    skolastisisme

t di muka i menjadi s jika lafalnya s

ratio rasio

action                                                aksi

patient                                               pasien

th menjadi t

theocracy teokrasi

orthography                                     ortografi

thiopental                                         tiopental

thrombosis                                        trombosis

methode metode

u tetap u

unit                                                     unit

nucleolus                                           nukleolus

structure                                            struktur

institute                                             institut

ua tetap ua

dualisme dualisme

aquarium akuarium

ue tetap ue

suede                                                 sued

duet                                                    duet

ui tetap ui

equinox                                             ekuinoks

conduite                                            konduite

uo tetap uo

fluorescein                                        fluoresein

quorum                                             kuorum

quota                                                 kuota

uu menjadi u

prematuur                                         prematur

vacuum                                             vakum

v tetap v

vitamin                                              vitamin

television                                           televisi

cavalry                                              kavaleri

x pada awal kata tetap x

xanthate                                            xantat

xenon xenon

xylophone                                         xilofon

x pada posisi lain menjadi ks

executive                                           eksekutif

taxi                                                     taksi

exudation                                          eksudasi

latex lateks

xc di muka e dan i menjadi ks

exception                                          eksepsi

excess ekses

excision eksisi

excitation                                          eksitasi

xc di muka a, o, u, dan konsonan menjadi ksk

excavation ekskavasi

excommunication                           ekskomunikasi

excursive ekskursif

exclusive eksklusif

y tetap y jika lafalnya y

yakitori                                              yakitori

yangonin                                           yangonin

yen yen

yuan yuan

y menjadi i jika lafalnya i

yttrium                                               itrium

dynamo dinamo

propyl                                                propil

psychology psikologi

z tetap z

zenith                                                 zenit

zirconium                                          zirkonium

zodiac                                                zodiak

zygote                                                zigot

Konsonan ganda menjadi konsonan tunggal kecuali kalau dapat membingungkan. Misalnya:

gabbro                                               gabro

accu                                                   aki

effect                                                  efek

commission                                       komisi

ferrum                                               ferum

solfeggio                                           solfegio

tetapi:

mass massa

Catatan:

1. Unsur pungutan yang sudah lazim dieja secara Indonesia tidak perlu lagi diubah.

Misalnya:

kabar                                                 sirsak

iklan                                                  perlu

bengkel                                             hadir

2. Sekalipun dalam ejaan yang disempurnakan huruf q dan x diterima sebagai bagian abjad bahasa Indonesia, unsur yang mengandung kedua huruf itu diindonesiakan menurut kaidah yang terurai di atas. Kedua huruf itu dipertahankan dalam penggunaan tertentu saja seperti dalam pembedaan nama dan istilah khusus.

Di samping pegangan untuk penulisan unsur serapan tersebut di atas, berikut ini didaftarkan juga akhiran-akhiran asing serta penyesuaiannya dalam bahasa Indonesia. Akhiran itu diserap sebagai bagian kata yang utuh. Kata seperti standardisasi, efektif, dan implementasi diserap secara utuh di samping kata standar, efek, dan implemen.

aat (Belanda) menjadi -at

advokaat advokat

plaat pelat

tractaat traktat

age menjadi -ase

percentage persentase

etalage etalase

-al, -eel (Belanda), -aal (Belanda) menjadi -al

structural, structureel struktural

formal, formeel formal

normal, normaal normal

ant menjadi -an

accountant akuntan

informant informan

archy, -archie (Belanda) menjadi -arki

anarchy,anarchie anarki

oligarchy, oligarchie oligarki

ary, air (Belanda) menjadi -er

complementary,complementair komplementer

primary, primair primer

secondary, secundair sekunder

(a)tion, -(a)tie (Belanda) menjadi -asi, -si

action, actie aksi

publication, publicatie publikasi

eel (Belanda) yang tidak ada padanannya dalam bahasa Inggris menjadi -il

materieel materiil

moreel moril

principieel prinsipiil

ein tetap ein

casein kasein

protein protein

ic, -ics, -ique, -iek, -ica (nomina) menjadi -ik, -ika

logic, logica logika

phonetics, phonetiek                         fonetik

physics, physica fisika

dialectics, dialektic dialektika

technique,techniek teknik

-ic (nomina) menjadi -ik

electronic elektronik

statistic statistik

-ic, -ical, -isch (adjektiva) menjadi -is

electronic, elektronisch elektronis

economical, economisch ekonomis

practical, practisch praktis

logical, logisch logis

-ile, -iel menjadi -il

percentile, percentiel persentil

mobile, mobiel mobil

-ism, -isme (Belanda) menjadi -isme

modernism, modernisme modernisme

communism, communisme komunisme

-ist menjadi -is

publicist publisis

egoist egois

-ive, -ief (Belanda) menjadi -if

descriptive, descriptief deskriftif

demonstrative, demonstratief demonstratif

-logue menjadi -log

catalogue katalog

dialogue dialog

-logy, -logie (Belanda) menjadi -logi

technology, technologie teknologi

physiology, physiologie                     fisiologi

analogy, analogie analogi

-loog (Belanda) menjadi -log

analoog analog

epiloog epilog

-oid, -oide (Belanda) menjadi -oid

hominoid, homonoide hominoid

anthropoid, anthropoide antropoid

-oir(e) menjadi -oar

trottoir trotoar

repertoire repertoar

-or, -eur (Belanda) menjadi –ur, -ir

director, directeur direktur

inspector, inspecteur inspektur

amateur amatir

formateur formatur

-or tetap -or

dictator diktator

corrector korektor

-ty, -teit (Belanda) menjadi -tas

university, universiteit universitas

quality, kwaliteit kualitas

-ure, -uur (Belanda) menjadi -ur

structure, struktuur struktur

premature, prematuur prematur


V. PEMAKAIAN TANDA BACA

A. Tanda Titik (.)

1. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.

Misalnya:

Ayahku tinggal di Solo.

Biarlah mereka duduk di sana.

Dia menanyakan siapa yang akan datang.

Hari ini tanggal 6 April 1973.

Marilah kita mengheningkan cipta.

Sudilah kiranya Saudara mengabulkan permohonan ini.

2. Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar.

Misalnya:

a. IlI. Departemen Dalam Negeri

A. Direktorat Jenderal Pembangunan Masyarakat Desa

B. Direktorat Jenderal Agraria

1. …

b.1. Patokan Umum

1.1    Isi Karangan

1.2    Ilustrasi

1.2.1 Gambar Tangan

1.2.2 Tabel

1.2.3 Grafik

Catatan:

Tanda titik tidak dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagian atau ikhtisar jika angka atau huruf itu merupakan yang terakhir dalam deretan angka atau huruf.

3. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu.

Misalnya:

pukul 1.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik)

4. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan jangka waktu. Misalnya:

1.35.20 jam (1 jam, 35 menit, 20 detik)

0.20.30 jam (20 menit, 30 detik)

0.0.30 jam (30 detik)

5. Tanda titik dipakai di antara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru, dan tempat terbit dalam daftar pustaka.

Misalnya:

Siregar, Merari. 1920. Azab dan Sengsara, Welte- vreden: Balai Poestaka.

6a. Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya.

Misalnya:

Desa itu berpenduduk 24.200 orang.

Gempa yang terjadi semalam menewaskan 1.231 jiwa.

6b. Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang tidak menunjukkan jumlah.

Misalnya:

Ia lahir pada tahun 1956 di Bandung.

Lihat halaman 2345 dan seterusnya.

Nomor gironya 5645678.

7. Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan atau kepala ilustrasi, tabel, dan sebagainya.

Misalnya:

Acara Kunjungan Adam Malik

Bentuk dan Kebudayaan (Bab I UUD’45)

Salah Asuhan

8. Tanda titik tidak dipakai di belakang (1) alamat pengirim dan tanggal surat atau (2) nama dan alamat penerima surat.

Misalnya:

Jalan Diponegoro 82

Jakarta

1 April 1991

Yth. Sdr. Moh. Hasan

Jalan Arif 43

Palembang

Kantor Penempatan Tenaga

Jalan Cikini 71

Jakarta

B. Tanda Koma (,)

1. Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan.

Misalnya:

Saya membeli kertas, pena, dan tinta.

Surat biasa, surat kilat, ataupun surat khusus memerlukan perangko.

Satu, dua, …tiga!

2. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahu1ui oleh kata seperti tetapi atau melainkan.

Misalnya:

Saya ingin datang, tetapi hari hujan.

Didi bukan anak saya, melainkan anak Pak Kasim.

3a. Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya.

Misalnya:

Kalau hari hujan, saya tidak akan datang.

Karena sibuk, ia lupa akan janjinya.

3b. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mengiringi induk kalimatnya.

Misalnya:

Saya tidak akan datang kalau hari hujan.

Dia lupa akan janjinya karena sibuk.

Dia tahu bahwa soal itu penting.

4. Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, dan akan tetapi.

Misalnya:

…Oleh karena itu, kita harus berhati-hati.

…Jadi, soalnya tidak semudah itu.

5. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan dari kata yang lain yang terdapat di dalam kalimat.

Misalnya:

O, begitu?

Wah, bukan main!

Hati-hati, ya, nanti jatuh.

6. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat. (Lihat juga pemakaian tanda petik, Bab V, Pasal L dan M.).

Misalnya:

Kata Ibu, “Saya gembira sekali.”

“Saya gembira sekali,” kata Ibu, “karena kamu lulus.”

7. Tanda koma dipakai di antara (i) nama dan alamat, (ii) bagian-bagian alamat, (iii) tempat dan tanggal, dan (iv) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.

Misalnya:

Surat-surat ini harap dialamatkan kepada Dekan Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Jalan Raya Salemba 6, Jakarta.

Sdr. Abdullah, Jalan Pisang Batu 1, Bogor

Surabaya, 10 Mei 1960

Kuala Lumpur, Malaysia

8. Tanda koma dipakai untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.

Misalnya:

Alisjahbana, Sutan Takdir. 1949. Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia. Jilid 1 dan 2. Djakarta: PT Pustaka Rakjat.

9. Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki.

Misalnya:

W.J.S. Poerwadarminta, Bahasa Indonesia untuk Karang-mengarang (Yogyakarta: UP Indonesia, 1967), hlm. 4

10. Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.

Misalnya:

E. Ratulangi, S.E.

Ny. Khadijah, M.A.

11. Tanda koma dipakai di muka angka persepuluhan atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.

Misalnya:

12,5 m

Rp12,50

12. Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi. (Lihat juga pemakaian tanda pisah, Eab V, Pasal F.)

Misalnya:

Guru saya, Pak Ahmad, pandai sekali.

Di daerah kami, misalnya, masih banyak orang laki-laki yang makan sirih.

Semua siswa, baik yang laki-laki maupun yang perempuan, mengikuti latihan paduan suara.

Bandingkan dengan keterangan pembatas yang pemakaiannya tidak diapit tanda koma:

Semua siswa yang lulus ujian mendaftarkan namanya pada panitia.

13. Tanda koma dapat dipakai untuk menghindari salah baca─di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat.

Misalnya:

Dalam pembinaan dan pengembangan bahasa, kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh.

Atas bantuan Agus, Karyadi mengucapkan terima kasih.

Bandingkan dengan:

Kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh dalam pembinaan dan pengembangan bahasa.

Karyadi mengucapkan terima kasih atas bantuan Agus.

14. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru.

Misalnya:

“Di mana Saudara tinggal?” tanya Karim.

“Berdiri lurus-lurus! ” perintahnya.

C. Tanda Titik Koma (;)

1. Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.

Misalnya:

Malam makin larut; pekerjaan belum selesai juga.

2. Tanda titik koma dapat dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk.

Misalnya:

Ayah mengurus tanamannya di kebun itu; Ibu sibuk bekerja di dapur.

Adik menghapal nama-nama pahlawan nasional; saya sendiri asyik mendengarkan siaran “Pilihan Pendengar” .

D. Tanda Titik Dua (:)

la. Tanda titik dua dapat dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau pemerian.

Misalnya:

Kita sekarang memerlukan perabot rumah tangga: kursi, meja, dan lemari.

Hanya ada dua pilihan bagi para pejuang kemerdekaan itu: hidup atau mati.

1b. Tanda titik dua tidak dipakai jika rangkaian atau pemerian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan.

Misalnya:

Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari.

Fakultas itu mempunyai jurusan konomi umum dan jurusan ekonomi perusahaan.

2. Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.

Misalnya:

a. Ketua                         : Ahmad Wijaya

Sekretaris                 : S. Handayani

Bendahara              : B. Hartawan

b. Tempat Sidang         : Ruang 104

Tempat Acara        : Bambang S.

Hari                           : Senin

Waktu                      : 09.30

3. Tanda titik dua dapat dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.

Misalnya:

Ibu : (meletakkan beberapa kopor) “Bawa kopor ini, Mir! “

Amir : “Baik, Bu.” (mengangkat kopor dan masuk)

Ibu : “Jangan lupa. Letakkan baik-baik!”

(duduk di kursi besar)

4. Tanda titik dua dipakai (i) di antara jilid atau nomor dan halaman, (ii) di antara bab dan ayat dalam kitab suci, (iii) di antara judul dan anak judul suatu karangan, serta (iv) nama kota dan penerbit buku acuan dalam karangan.

Misalnya:

Tempo, I(1971), 34:7

Surah Yasin:9

Karangan Ali Hakim, Pendidikan Seumur Hidup: Sebuah Studi, sudah terbit.

Tjokronegoro, Sutomo. 1968. Tjukupkah Saudara Membina Bahasa Persatuan Kita? Djakarta: Eresco.

E. Tanda Hubung (-)

1. Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh pergantian baris.

Misalnya:

Di samping cara-cara lama itu ada ju-ga cara yang baru.

Suku kata yang berupa satu vokal tidak ditempatkan pada ujung baris atau pangkal baris

Misalnya:

Beberapa pendapat mengenai masalah itu telah disampaikan….

Walaupun sakit, mereka tetap tidak

mau beranjak ….

atau

Beberapa pendapat mengenai masalah itu telah disampaikan

Walaupun sakit, mereka tetap tidak mau beranjak….

bukan

Beberapa pendapat mengenai masalah i-tu telah disampaikan….

Walaupun sakit, mereka tetap tidak ma-  u beranjak ….

2. Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata di belakangnya atau akhiran dengan bagian kata di depannya pada pergantian baris.

Misalnya:

Kini ada cara yang baru untuk meng- ukur panas.

Kukuran baru itu memudahkan kita me- ngukur kelapa.

Senjata ini merupakan alat pertahan-   an yang canggih.

Akhiran -i tidak dipenggal supaya jangan terdapat satu huruf saja pada pangkal baris.

3. Tanda hubung menyambung unsur-unsur kata ulang.

Misalnya:

anak-anak

berulang-ulang

kemerah-merahan

Angka 2 sebagai tanda ulang hanya digunakan pada tulisan cepat dan notula, dan tidak dipakai pada teks karangan.

4. Tanda hubung menyambung huruf kata yang dieja satu-satu dan bagian-bagian tanggal.

Misalnya:

p-a-n-i-t-i-a

8-4-1973

5. Tanda hubung boleh dipakai untuk memperjelas (i) hubungan bagian-bagian kata atau ungkapan, dan (ii) penghilangan bagian kelompok kata.

Misalnya:

ber-evolusi

dua puluh lima-ribuan (20 5000)

tanggung jawab dan kesetiakawanan-sosial

Bandingkan dengan:

be-revolusi

dua-puluh-lima-ribuan (1 2500)

6. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan (i) se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital, (ii) ke- dengan angka, (iii) angka dengan -an, dan (iv) singkatan berhuruf kapital dengan imbuhan atau kata, dan (v) nama jabatan rangkap.

Misalnya:

se- Indonesia

se-Jawa Barat

hadiah ke-2

tahun 50-an

mem-PHK-kan

hari-H

sinar-X

Menteri-Sekretaris Negara

7. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing.

Misalnya:

di-smash

pen-tackle-an

F. Tanda Pisah (-)

1. Tanda pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan di luar bangun kalimat.

Misalnya:

Kemerdekaan bangsa itu─saya yakin akan tercapai─diperjuangkan oleh bangsa itu sendiri.

2. Tanda pisah menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas.

Misalnya:

Rangkaian temuan ini─evolusi, teori kenisbian, dan kini juga pembelahan atom─telah mengubah konsepsi kita tentang alam semesta.

3. Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan, tanggal, atau tempat dengan arti ‘sampai’.

Misalnya:

1910─1945

Tanggal 5─10 April 1970

Jakarta─Bandung

Catatan:

Dalam pengetikan, tanda pisah dinyatakan dengan dua buah tanda hubung tanpa spasi sebelum dan sesudahnya.

G. Tanda Elipsis (…)

1. Tanda elipsis dipakai dalam kalimat yang terputus-putus.

Misalnya:

Kalau begitu …ya, marilah kita bergerak.

2. Tanda elipsis menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau naskah ada bagian yang dihilangkan.

Misalnya:

Sebab-sebab kemerosotan …akan diteliti lebih lanjut.

Catatan:

Jika bagian yang dihilangkan mengakhiri sebuah kalimat, perlu dipakai empat buah titik; tiga buah untuk menandai penghilangan teks dan satu untuk menandai akhir kalimat.

Misalnya:

Dalam tulisan, tanda baca harus digunakan dengan hati-hati ….

H. Tanda Tanya (?)

1. Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya.

Misalnya:

Kapan ia berangkat?

Saudara tahu, bukan?

2. Tanda tanya dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya.

Misalnya:

la dilahirkan pada tahun 1683 (?)

Uangnya sebanyak 10 juta rupiah (?) hilang.

I.  Tanda Seru (!)

Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, ataupun rasa emosi yang kuat.

Misalnya:

Alangkah seramnya peristiwa itu!

Bersihkan kamar itu sekarang juga!

Masakan! Sampai hati juga ia meninggalkan anak istrinya.

Merdeka!

J. Tanda Kurung ((…))

1. Tanda kurung mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.

Misalnya:

Bagian Perencanaan sudah selesai menyusun DIK (Daftar Isian Kegiatan) kantor itu.

2. Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok pembicaraan.

Misalnya:

Sajak Tranggono yang berjudul “Ubud” (nama dan tempat yang terkenal di Bali) ditulis pada tahun 1962.

Keterangan itu (lihat Tabel 10) menunjukkan arus perkembangan baru dalam pasaran dalam negeri.

3. Tanda kurung mengapit huruf atau kata yang kehadirannya di dalam teks dapat dihilangkan.

Misalnya:

Kata cocaine diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kokain(a).

Pejalan kaki itu berasal dari (kota) Surabaya.

4. Tanda kurung mengapit angka atau huruf yang memerinci satu urutan keterangan.

Misalnya:

Faktor produksi menyangkut masalah (a) alam, (b) tenaga kerja, dan (c) modal.

K. Tanda Kurung Siku ([...])

1. Tanda kurung siku mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu menyatakan bahwa kesalahan atau kekurangan itu memang terdapat di dalam naskah asli.

Misalnya:

Sang Sapurba men[d]engar bunyi gemerisik.

2. Tanda kurung siku mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung.

Misalnya:

Persamaan kedua proses ini (perbedaannya [lihat halaman 35-38] tidak dibicarakan) perlu dibentangkan di sini.

L. Tanda Petik (“…”)

1. Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lain.

Misalnya:

“Saya belum siap,” kata Mira, “tunggu sebentar!”

Pasal 36 UUD 1945 berbunyi, “Bahasa negara ialah bahasa Indonesia.”

2. Tanda petik mengapit judul syair, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat.

Misalnya:

Bacalah “Bola Lampu ” dalam buku Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat.

Karangan Andi Hakim Nasoetion yang berjudul “Rapor dan Nilai Prestasi di SMA ” diterbitkan dalam Tempo.

Sajak “Berdiri Aku” terdapat pada halaman 5 buku itu.

3. Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus.

Misalnya:

Pekerjaan itu dilaksanakan dengan cara “coba dan ralat” saja.

Ia bercelana panjang yang di kalangan remaja dikenal dengan nama “cutbrai”.

4. Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung.

Misalnya:

Kata Tono, “Saya juga minta satu.”

5. Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan di belakang tanda petik yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus pada ujung kalimat atau bagian kalimat.

Misalnya:

Karena warna kulitnya, Budi mendapat julukan “Si Hitam”.

Bang Komar sering disebut “pahlawan”, ia sendiri tidak tahu sebabnya.

Catatan:

Tanda petik pembuka dan tanda petik penutup pada pasangan tanda petik itu ditulis sama tinggi di sebelah atas baris.

M. Tanda Petik Tunggal (‘…’)

1.  Tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain.

Misalnya:

Tanya Basri, “Kau dengar bunyi ‘kring-kring’ tadi?”

“Waktu kubuka pintu kamar depan, kudengar teriak anakku, Ibu, ‘Bapak pulang’, dan rasa letihku lenyap seketika,” ujar Bapak Hamdan.

2. Tanda petik tunggal mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata ungkapan asing. (Lihat pemakaian tanda kurung, Bab V, Pasal J.)

Misalnya:

feed-back ‘balikan’

N. Tanda Garis Miring

1. Tanda garis miring dipakai dalam nomor surat dan nomor pada alamat dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim.

Misalnya:

No. 7/PK/1973

Jalan Kramat II/10

tahun anggaran 1985/1986

2. Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata dan, atau, atau tiap.

Misalnya:

mahasiswa/mahasiswi

harganya Rp150,00/lembar

O. Tanda Penyingkat atau Apostrof (‘)

Tanda penyingkat atau apostrof menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian angka tahun.

Misalnya:

Ali ‘kan kusurati. (‘kan = akan)

Malam ‘lah tiba. (‘lah = telah)

1 Januari ’88 (’88 = 1988)


*** Lihat Pedoman Pemenggalan Kata pada halaman 1179-1181, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua, Cetakan Pertama, Balai Pustaka, 1991

Categories: Pendidikan Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.