Beranda > Pembelajaran > Pendalaman Materi Menulis di SD

Pendalaman Materi Menulis di SD


I. Pendahuluan

A. Latar Belakang

Keterampilan menulis oleh para ahli pengajaran bahasa ditempatkan pada tataran paling tinggi dalam proses pemerolehan bahasa. Hal ini disebabkan keterampilan menulis merupakan keterampilan produktif yang hanya dapat diperoleh sesudah keterampilan menyimak, berbicara, dan membaca. Hal ini pula yang menyebabkan keterampilan menulis merupakan keterampilan berbahasa yang dianggap paling sulit.

Meskipun keterampilan menulis itu sulit, tetapi perannannya dalam kehidupan manusia sangat penting dalam masyarakat sepanjang zaman. Kegiatan menulis dapat ditemukan dalam aktivitas manusia setiap hari, seperti menulis surat, laporan, buku, artikel, dan sebagainya. Dapat dikatakan, bahwa kehidupan manusia hampir tidak bisa dipisahkan dari kegiatan menulis. Bahkan, Tarigan (1992:44) menyatakan bahwa indikasi kemajuan suatu bangsa dapat dilihat dari maju-tidaknya komunikasi tulis bangsa itu.

Kenyataan di atas mengharuskan pengajaran menulis digalakkan sedini mungkin. Tidak mengherankan jika dalam kurikulum sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi, pengajaran menulis menjadi aspek pembelajaran bahasa Indonesia yang mendapat porsi lebih besar daripada keterampilan berbahasa lainnya. Hal ini terlihat pada banyaknya porsi keterampilan menulis dalam pembelajaran bahasa Indonesia di Sekolah Dasar, yakni sekitar 70 persen.

Akan tetapi, disayangkan, kenyataan dewasa ini pembelajaran menulis termasuk di SD belum menggembirakan. Banyak penelitian yang mengungkapkan bahwa kemampuan menulis siswa masih rendah karena metode pengajaran menulis kurang efektif. Banyak kalangan menilai pengajaran menulis dewasa ini sangat terlantar.

Uraian di atas mengisyaratkan, bahwa dewasa ini dibutuhkan pembenahan serius dalam pengajaran menulis, meskipun dipahami bahwa banyak faktor yang mempengaruhi ketidakmampuan siswa dalam menulis. Namun, diakui bahwa peranan guru sangat menentukan. Oleh karena itu, guru dituntut untuk kreatif dan inovatif serta memiliki kemampuan yang memadai dalam merancang pembelajaran menulis, terutama menyangkut teknik dan strategi yang digunakan.

Kenyataannya, dewasa ini pendekatan yang digunakan dalam pengajaran keterampilan menulis yang banyak diterapkan di sekolah adalah pendekatan tradisional yakni mengajar siswa secara langsung dengan memberikan judul, tema, atau topik tertentu. Siswa disuruh mengembangkan kerangka, dan sebagainya dengan penekanan pada hasil tulisan. Strategi semacam ini menjadi kendala bagi pengembangan keterampilan menulis siswa. Hal tersebut diakibatkan karena siswa tidak terbiasa mengkaji secara langsung permasalahan yang hendak ditulis. Akibatnya, siswa terbentur dalam menuliskan materi yang ada dalam pikirannya. Padahal, pada hakikatnya, kemampuan menulis siswa sangat bergantung kepada penguasaan hal yang hendak ditulis.

Berdasarkan uraian di atas, maka guru harus kreatif dalam memilih strategi pembelajaran menulis, tidak terpaku dengan minimnya waktu yang disediakan dan tuntutan target kurikulum. Akan tetapi, harus sejalan dengan tujuan pembelajaran menulis, yaitu agar siswa terampil mengkomunikasikan idenya secara tertulis melalui suatu proses menyeluruh yang bermakna, yang tentunya membutuhkan suatu proses latihan yang memadai dan kontinyu.

B. Tujuan Pembelajaran Menulis dan Tujuan Menulis

1. Tujuan Pembelajaran Menulis

Tujuan pengajaran setiap mata pelajaran dapat diklasifikasikan atas tiga aspek, yaitu pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Setiap mata pelajaran atau bagiannya tentu saja memiliki karakteristik yang berbeda. Titik berat tujuannya pun juga berbeda-beda. Mata pelajaran bahasa Indonesia misalnya dapat menitikberatkan pada keterampilan tanpa mengabaikan segi kognitif dan afektifnya.

Pemberlakuan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan diharapkan: (1) siswa dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minatnya, serta dapat menumbukan penghargaan terhadap hasilkarya dan hasil intelektual bangsa sendiri, (2) guru dapat memusatkan perhatian pada pengembangan kompetensi bahasa siswa dengan menyediakan keragaman kegiatan berbahasa dan sumber belajar, (3) guru lebih mandiri dan leluasa dalam menentukan bahan ajar sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan kemampuan siswanya, (4) orang tua dan masyarakat terlibat secara aktif dalam pelaksanaan program di sekolah, (5) sekolah dapat menyusun program pendidikan sesuai dengan keadaan siswa dan sumber belajar sesuai dengan kondisi dan kekhasan daerah/sekolah.

Tujuan pembelajaran bahasa Indonesia (termasuk di dalamnya pembelajaran menulis) di SD berdasarkan standar isi adalah agar peserta didik memiliki kemampuan :

  1. Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis
  2. Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara
  3. Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan
  4. Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan  intelektual, serta kematangan emosional dan sosial
  5. Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa
  6. Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.

Dalam standar kompetensi lulusan Sekolah Dasar mata pelajaran Bahasa Indonesia pada aspek menulis, diharapkan peserta didik memiliki kompetensi melakukan berbagai jenis kegiatan menulis untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam bentuk karangan sederhana, petunjuk, surat, pengumuman, dialog, formulir, teks pidato, laporan, ringkasan, parafrase, serta berbagai karya sastra untuk anak berbentuk cerita, puisi, dan pantun.

2. Tujuan Menulis

Seorang tergerak menulis karena memiliki tujuan-tujuan yang bisa dipertanggung-jawabkan di hadapan pembacanya, karena tulisan pada dasarnya adalah sarana untuk menyampaikan pendapat atau gagasan agar dapat dipahami dan diterima orang lain. Tulisan dengan demikian menjadi salah satu sarana komunikasi yang cukup efektif dan efisien untuk menjangkau khalayak massa yang luas. Atas dasar pemikiran inilah maka tujuan menulis dapat dirunut dari tujuan-tujuan komunikasi yang cukup mendasar dalam konteks pengembangan peradaban dan kebudayaan masyarakat itu sendiri.

Adapun tujuan penulisan tersebut adalah sebagai berikut.

1)      Menginformasikan segala sesuatu, baik itu fakta, data maupun peristiwa termasuk pendapat dan pandangan terhadap fakta, data, dan peristiwa agar pembaca memperoleh pengetahuan dan pemahaman baru tentang berbagai hal.

2)      Membujuk; melalui tulisan seorang penulis mengharapkan pula pembaca dapat menentukan sikap, apakah menyetujui atau mendukung yang dikemukakannya. Penulis harus mampu membujuk dan meyakinkan pembaca dengan menggunakan gaya bahasa yang persuasif. Oleh karena itu, fungsi persuasi dari sebuah tulisan akan dapat berhasil apabila penulis mampu menyajikan dengan gaya bahasa yang menarik, akrab, bersahabat, dan mudah dipahami.

3)      Mendidik adalah salah satu tujuan dari komunikasi melalui tulisan. Melalui membaca hasil tulisan, wawasan pengetahuan seseorang akan terus bertambah, kecerdasan terus diasah, yang pada akhirnya akan menentukan perilaku seseorang. Orang-orang yang berpendidikan misalnya, cenderung lebih terbuka dan penuh toleransi, lebih menghargai pendapat orang lain, dan tentu saja cenderung lebih rasional.

4)      Menghibur; bahwa fungsi dan tujuan menghibur dalam komunikasi bukan onopoli media massa, radio, televisi, melainkan tulisan dapat pula berperan dalam menghibur khalayak pembacanya. Tulisan-tulisan atau bacaan-bacaan “ringan” yang kaya dengan anekdot dan pengalaman lucu bisa pula menjadi bacaan penglipur lara atau untuk melepaskan ketegangan dan kepenatan setelah seharian sibuk beraktivitas.

C. Rambu-rambu Pembelajaran Menulis

Berikut ini merupakan rambu-rambu yang perlu diperhatikan guru dalam melaksanakan pembelajaran menulis di sekolah.

1)      Belajar bahasa pada hakikatnya adalah berkomunikasi. Oleh karena itu, pembelajaran menulis diarahkan pada kemampuan berkomunikasi secara tertulis.

2)      Pelaksanaan pembelajaran menulis sebaiknya disajikan secara terpadu, terhadap aspek pembelajaran lain. Namun, dalam hal tertentu dapat difokuskan pada komponen tertentu. Menulis dapat sebagai fokus maupun sebagai tambahan.

3)      Pembelajaran menulis harus mengakomodasi semua aspek bahasa mulai terkecil hingga terbesar termasuk ejaan (tata tulis).

4)      Pembelajaran menulis diarahkan pada upaya mempertajam kepekaan perasaan siswa termasuk dalam konteks analitik yang mendalam sehingga diharapkan dua hal yaitu berpikir dan bernalar.

5)      Pembelajaran menulis harus diajarkan dengan prinsip mudah ke sukar, sederhana ke rumit, lingkungan sempit ke lingkungan yang luas.

6)      Perbandingan bobot pembelajaran menulis dengan aspek pembelajaran lainnya harus seimbang.

7)      Kegiatan pembelajaran menulis harus menekankan pada kemampuan berbahasa yang mengacu pada konteks atau tema.

8)      Kompetensi pembelajaran dalam kurikulum merupakan bahan yang  disarankan utnuk diajarkan, tetapi dapat dikembangkan sesuai dengan situasi.

9)      Waktu yang disediakan dalam setiap pembelajaran menulis harus dapat diatur sesuai dengan keluasan dan kedalaman materi dengan menggunakan pendekatan komunikatif. Adapun metode dapat dipilih sesuai karakteristik pembelajaran yang diinginkan. Kegiatan pembelajaran dapat disetting di dalam maupun di luar kelas.

10)  Sumber belajar menulis dapat berupa (a) buku pelajaran yang diwajibkan, buku pelajaran yang sesuai, buku pelengkap, ensiklopedi, kamus, (b) media cetak, surat kabar, majalah, (c) media elektronik: radio, TV, video, (d) lingkungan: alam, sosial, budaya, (e) narasumber, (f) pengalaman dan minat anak, serta (g) hasil karya anak.

11)  Pembelajaran menulis dilakukan secara kontinyu agar anak terampil.

12)  Penilaian pembelajaran menulis tetap mengacu pada rambu-rambu umum yang memperhatikan berbagai aspek sesuai jenis kegiatan menulis.

D. Ruang Lingkup Pembelajaran Menulis di Sekolah Dasar

Agar tujuan menulis dapat tercapai dengan baik, maka diperlukan latihan yang memadai dan secara terus-menerus. Selain itu, anak pun harus dibekali dengan pengetahuan dan pengalaman yang akan ditulisnya, karena pada hakikatnya menulis adalah menuangkan sesuatu yang telah ada dalam pikirannya. Namun demikian, hal yang tidak dapat diabaikan dalam pengajaran mengarang di Sekolah Dasar adalah siswa harus mempunyai modal pengetahuan yang cukup tentang ejaan, kosakata, dan pengetahuan tentang mengarang itu sendiri.

Untuk mencapai tujuan pembelajaran menulis seperti yang diungkapkan di muka, pembelajaran menulis di Sekolah Dasar harus dimulai dari tahap yang paling sederhana lalu pada hal yang sederhana, ke yang biasa, hingga pada yang paling sukar. Tentu saja hal ini perlu melalui tahapan sesuai dengan tingkat pemikiran siswa. Oleh karena itu, di Sekolah Dasar pembelajaran menulis dibagi atas dua tahap, yaitu menulis permulaan dan menulis lanjut. Menulis permulaan ditujukan kepada siswa kelas rendah yakni kelas satu hingga kelas tiga, sedangkan kelas empat hingga kelas enam diberi pembelajaran menulis lanjutan. Untuk lebih jelasnya berikut ini diuraikan kedua kelompok tersebut secara ringkas berdasarkan beberapa referensi.

1. Menulis Permulaan

Dalam pembelajaran menulis permulaan tentu harus dimulai pada hal sangat  sederhana. Menulis tentu hanya dengan bebrapa kalimat sederhana bukan suatu karangan yang utuh. Mengajarkan menulis permulaan tentu saja selalu dilakukan dengan pembelajaran terpimpin. Beberapa contoh pembelajaran menulis permulaan seperti berikut (a) mengarang mengikuti pola dengan cara siswa hanya diminta membuat karangan seperti contoh (pola) yang diberikan yang tentunya idenya harus lebih dekat dengan siswa. Hal ini dimaksudkan agar siswa dapat menuangkan ide/pikiran secara runtut dan logis.

Contoh:  Jeruk.

Jeruk berbentuk bulat.

Isinya kuning.

Rasanya manis dan asam.

Jeruk banyak dijual di pasar.

Contoh di atas dapat ditiru polanya oleh anak dengan memberi topik lain misalnya, kelereng, kucing, pohon, dan sebagainya. Karangan di atas bisa diajarkan pada kelas satu dan dua, setelah siswa lancar dalam menulis kalimat sederhana. (b) Mengarang dengan melengkapi kalimat, yakni siswa diminta untuk melengkapi kalimat dalam karangan dengan kata yang telah tersedia. (c) Bimbingan dengan memasangkan kelompok kata, yakni siswa diminta untuk memasangkan kelompok kata dengan kalimat yang erpenggal atau kurang lengkap. Hal ini bertujuan agar siswa dapat membuat kalimat luas. (d) Bimbingan dengan mengurutkan kalimat, yaitu siswa dibimbing untuk mengurutkan kalimat sesuai dengan gambar seri. (e) Bimbingan dengan pertanyaan, hal ini diharapkan agar siswa dapat membuat karangan setelah dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan dalam pikirannya. Karena sebuah karangan jika ditarik kesimpulan sebenarnya merupakan rangkaian jawaban atas berbagai pertanyaan. Dalam hal ini guru hanya menyiapkan beberapa pertanyaan, misalnya: Kucingku; apa nama kucingmu, apa warnanya, apakah kamu menyukainya, apa makanannya, kapan memberi makan, lucukah, mengapa lucu, bagaimana suaranya, mengapa kucing dipelihara orang, dan sebagainya.

Demikian beberapa contoh mengarang atau menulis permulaan, yang pada dasarnya merupakan upaya membentuk kebiasaan siswa mengarang secara sederhana sesuai dengan tingkat perkembangan kemampuannya.

2. Menulis Lanjutan

Syarat untuk dapat menulis lanjutan adalah siswa harus terampil dan menguasai menulis permulaan. Oleh karena itu, pada prinsipnya menulis lanjutan adalah pengembangan menulis permulaan. Adapun tujuannya adalah agar siswa dapat membuat karangan secara ajek dan lengkap. Beberapa metode dalam menulis lanjutan antara lain : (a) Membuat paragraf dengan gambar, yakni siswa diminta untuk membuat paragraf berdasarkan gambar yang telah disediakan. Hal ini dapat diberi kata-kata kunci, sehingga tidak terlalu menyimpang dengan cerita. (b) Mengembangkan paragraf, yakni siswa dilatih untuk mengembangkan sebuah kalimat utama menjadi sebuah paragraf. (c) Menyusun paragraf dari kalimat yang tersedia. (d) Menghubungkan paragraf dengan paragraf lainnya. (e) Membuat karangan dengan gambar seri. (f) Mengarang berdasarkan kerangka, dan mengarang secara bebas.

Kesemua metode di atas bukanlah harga mati melainkan sangat fleksibel. Hal ini disebabkan karena pembelajaran menulis di SD cakupannya cukup luas. Adapun ruang lingkup pembelajaran menulis/mengarang di SD antara lain adalah : mengarang prosa narasi, menulis prosa deskripsi, menulis surat izin, menulis surat undangan, mengisi formulir, menyusun paragraf, mengembangkan judul dan topik, menulis nonfiksi, menyingkat cerita, menyusun naskah pengumuman, menyusun iklan dan poster, menulis laporan kegiatan, menyusun naskah pidato, dan lain-lain.

II. Pembelajaran Keterampilan Menulis di Sekolah Dasar

1. Keterampilan Menulis

Pada dasarnya keterampilan menulis dapat diperoleh dan dikuasai dengan jalan banyak berlatih karena keterampilan menulis mencakup penggunaan sejumlah unsur yang kompleks secara serempak. Untuk mengetahui sampai di mana hasil menulis yang dicapai, perlu dilakukan tes menulis kepada siswa.

Menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang digunakan untuk berkomunikasi tidak langsung, tidak secara tatap muka dengan orang lain, dan merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif.

Untuk dapat menulis secara efektif, penulis perlu melakukan langkah-langkah sebagai berikut.

a)      seorang penulis harus mempunyai aturan dalam menulis serta jelas objek tulisannya,

b)      sebelum menulis harus terlebih dahulu menyusun kerangka karangan,

c)      merumuskan tujuan penulisan,

d)     tulisan selalu berfokus pada topik,

e)      untuk memperjelas ide-ide yang abstrak gunakan contoh,

f)       gunakan kata atau kalimat yang tepat dan jelas,

g)      hindari bias gender, serta penggunaan orang pertama yang berlebihan.

Langkah penulisan di atas perlu diperhatikan oleh seorang penulis agar hasil tulisannya lebih efektif karena dalam karangan ada lima unsur yang dimiliki karangan tersebut, yaitu:

1)      isi karangan : hal atau gagasan yang dikemukakan;

2)      bentuk karangan: susunan atau cara menyajikan isi ke dalam pola kalimat;

3)      tata bahasa: penggunaan tata bahasa dan pola kalimat yang tepat;

4)      gaya: pilihan struktur dan kosakata untuk memberika nada atau warna terhadap karangan;

5)      penggunaan ejaan dan tanda baca.

2. Pembelajaran Menulis di Sekolah Dasar

Pada bagian ini akan dibahas bebera hal yang perlu diperhatikan guru dalam melakukan pembelajaran menulis di Sekolah Dasar.

Berbagai Kegiatan Menulis

Keterampilan menulis dapat diklasifikasikan berdasarkan dua sudut pandang yang berbeda. Sudut pandang tersebut adalah kegiatan atau aktivitas dalam melaksanakan keterampilan menulis dan hasil produk menulis itu. Klasifikasi keterampilan menulis berdasarkan sudut pandang kedua menghasilkan pembagian produk menulis atas empat kategori, yaitu: karangan narasi, eksposisi, deskripsi, dan argumentasi.

Berdasarkan dua acuan tersebut di atas dapat disusun jenis-jenis kegiatan dalam pembelajaran keterampilan menulis tersebut dengan susunan dari yang mudah menuju kepada yang sukar adalah sebagai berikut.

  • Menyusun karangan bersama
  • Menyusun kembali karangan yang diacak
  • Menyelesaikan cerita tertulis
  • Meringkas (sinopsis) bacaan
  • Reka cerita gambar
  • Memerikan atau mendeskripsikan sesuatu
  • Mengembangkan judul
  • Menulis surat
  • Menyusun dialog
  • Menyusun laporan
  • Menyusun iklan, slogan, poster, dan spanduk
  • Meresensi buku
  • Menyusun karangan ilmiah

Uraian jenis-jenis kegiatan menulis di atas menunjukkan kepada guru bahasa Indonesia ada banyak pilihan dalam merencanakan pembelajaran keterampilan menulis, di bawah ini dijelaskan secara singkat jenis-jenis tulisan berdasarkan isi tulisan.

Menulis Deskripsi

Deskripsi adalah pemaparan atau penggambaran dengan kata-kata atas suatu benda, tempat, suasana atau keadaan. Seorang penulis deskripsi melalui tulisannya mengharapkan pembaca dapat melihat, mendengar, mencium bau, mencicipi dan merasakan hal yang sama dengan penulis. Deskripsi pada dasarnya merupakan hasil dari pengamatan melalui panca indera yang disampaikan dengan kata-kata.

Contoh:

Jauh di sana di tepi sungai,tampak seorang perempuan yang masih muda berjalan hilir mudik, kadang-kadang menengok ke laut, rupanya mencari atau menantikan apa-apa yang boleh timbul dari dalam laut yang amat tenang laksana aiar di dalam dulang pada ketika itu, atau darti pihak manapun. Pada air mukanya yang telah pucat dan dan tubuhnya yang sudah kurus itu, dapatlah diketahui, bahwa perempuan itu memikul suatu percintaan yang amat berat. Meskipun mukanya telah kurus, tetapi cahaya kecantikan perempuan itu tiada juga hilang. (dikutip dari “Bintang Minahasa” karya Hersevien M.Taulu ,2001:65)

Menulis Narasi

Narasi pada dasarnya adalah karangan atau tulisan yang berbentuk cerita.    Seperti kalau orang bercerita tentang “mengisi liburan sekolah”, “mendaftarkan diri ke sekolah”, “pengalaman berkemah di hutan”, “kecelakaan lalu lintas di jalan raya”, atau “pertandingan olahraga”. Cerita itu tentunya didasarkan pada urut-urutan suatu kejadian atau peristiwa. Di dalam peristiwa itu ada tokoh, mungkin tokoh itu adalah penulis sendiri, teman penulis, atau orang lain, dan tokoh itu mengalami masalah atau konflik. Bisa saja dalam cerita itu menghadirkan satu konflik atau serangkaian konflik yang dihadapi oleh tokoh dalam ceritamu itu. Jadi, dalam sebuah narasi terdapat tiga unsur pokok,  yaitu : peristiwa,  tokoh, dan  konflik.  Ketiga unsur itu  diramu menjadi satu dalam sebuah jalinan yang disebut alur atau plot. Dengan demikian, narasi adalah cerita berdasarkan alur.  Sering juga narasi diartikan sebagai cerita yang didasarkan pada kronologi waktu.

Contoh:

Pertandingan antara Angelique Widjaja melawan Tamarine Tanasugarn berlangsung sangat mendebarkan. Pada set pertama, Tamarine unggul atas Angie dengan skor 6-2. Namun, Angie membalas kekalahannya di set pertama dengan merebut set kedua. Angie memenangi set kedua itu dengan skor tipis 7-5.  Memasuki set ketiga, Tamarine tampaknya mulai kehabisan tenaga. Sebaliknya Angie semakin percaya diri apalagi ia mendapat dukungan luarbiasa dari para penonton. Dengan mudah Angie memimpin perolehan angka. Ia sempat unggul dengan skor 5-0, sebelum akhirnya Angie menutup set penentuan itu dengan skor 6-2. Kemenangannya itu mengantarkan Angie ke semifinal turnamen tenis WTA Tour di Bali.

Menulis Eksposisi

Eksposisi/paparan merupakan tulisan hasil peninjauan terhadap suatu hal. Penyampaian gagasan dilakukan secara analitis kronologis waktu maupun ruang. Tulisan berjenis eksposisi biasanya merupakan bagian dari karangan ilmiah. Penulisan eksposisi dilakukan dengan cara menyusun kerangka karangan yang memuat kata-kata kunci yang didukung oleh penjelasan-penjelasan, contoh-contoh, ilustrasi, maupun bukti.

Contoh:

Kloning manusia menjadi isu pembicaraan semakin menarik para ulama akhir-akhir ini. Percobaan kloning pada binatang memang telah berhasil dilakukan, seperti kelahiran anak domba (Dolly) yang diujicoba dalam tahun 1996, tikus (1997), sapi (1998), babi (1999), kera (2000), kucing (2001). Awal April lalu dr. Severino Antinori, ginekolog dari Italia, mengumumkan keberhasilannya menumbuhkan janin dalam kloning manusia.

Kloning adalah upaya untuk menduplikasi genetik yang sama dari suatu organisme dengan menggantikan inti sel dari sel telur dengan inti sel organisme lain. Kloning pada manusia dilakukan dengan mempersiapkan sel telur yang sudah diambil intinya lalu disatukan dengan sel dewasa dari suatu organ tubuh. Hasilnya ditanam ke rahim seperti halnya embrio bayi tabung.

Menulis Argumentasi

Argumentasi dibentuk dari kata argumen yang berarti alasan. Paragraf argumentasi adalah paragraf yang bertujuan untuk menyatakan kebenaran dengan didukung argumen atau alasan yang sesuai. Termasuk dalam bentuk ini adalah tulisan yang bertujuan mengajak, membujuk, dan mempengaruhi orang lain. Argumentasi sering pula dibedakan dengan persuasi yang lebih bertujuan membujuk atau mempengaruhi orang lain, sementara argumentasi diartikan sebagai tulisan yang isinya bersifat menyakinkan suatu hal kepada orang lain terhadap suatu hal.

Paragraf argumentasi dapat disusun dengan pola sebab-akibat. Artinya, paragraf tersebut diawali dengan kalimat utama yang merupakan sebab dan diikuti oleh beberapa akibat sebagai kalimat penjelasnya. Sebaliknya, paragraf argumentasi juga dapat disusun dengan pola akibat-sebab yang berarti paragraf tersebut diawali dengan akibat yang merupakan kalimat utama dan diikuti oleh beberapa sebab sebagai kalimat penjelasnya.

Contoh:

Hakim menjatuhkan vonis hukuman kepada terdakwa itu. Dari catatan kepolisian yang ada ternyata ia telah berkali-kali melakukan kejahatan-kejahatan kecil sampai kejahatan besar hampir semua pernah ia lakukan. Ternyata, lingkungan pergaulan yang ia lalui merupakan faktor utama yang menyebabkannya harus mengalami penderitaan yang panjang.

Metode Pembelajaran menulis di Sekolah Dasar

Metode pembelajaran menulis hendaknya memperhatikan bahwa bahasa itu merupakan satu keutuhan sesuai dengan fungsinya. Oleh karena itu, pembelajaran menulis dapat dilakukan secara terpadu dengan kegiatan membaca, mendengarkan, dan berbicara. Misalnya, pada metode inkuiri, waktu diskusi berlangsung ada siswa yang bertugas mencatat semua keputusan diskusi. Pada diri pencatat terdapat keterpaduan antara kegiatan menyimak dan menulis. Kegiatan itu sebenarnya tidak hanya berlaku pada pencatat, tetapi juga berlaku pada semua peserta diskusi. Hasil catatan itu dirangkum menjadi laporan diskusi. Dengan demikian kegiatan diskusi yang disertai laporan tertulis akan melatih siswa terampil mendengarkan dan menulis. Melalui kegiatab itu siswa sekaligus mengenal perbedaan ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulis karena dalam penyusunan laporan tertulis bahasa yang digunakan berbeda dari apa yang didengar dalam diskusi yang menggunakan ragam bahasa lisan.

Media Pembelajaran di Sekolah Dasar

Media pembelajaran memegang peranan penting dalam usaha meningkatkan hasil belajar. Tampaknya masih sedikit guru yang mempergunakan media dalam mengajarkan menulis. Sebaiknya guru mempersiapkan berbagai macam media yang dapat dipergunakan untuk menggairahkan pembelajaran menulis.

Berbagai bentuk pemakaian bahasa dapat dijadikan media pembelajaran menulis. Misalnya, ketika akan belajar menulis surat pribadi, guru dapat membawakan beberapa contoh surat pribadi atau siswa disuruh membawanya. Guru dapat mendiskusikan dengan siswa dari segi isi, bentuk dan bahasanya.

Guru dapat juga menugaskan siswa membawa gambar-gambar yang disukai siswa kemudian guru menugaskan siswa untuk menceritakan isi gambar tersebut dan menulisnya di buku tentang gambar itu. Guru dapat pula menugaskan siswa saling menilai hasil tulisannya, dengan memberikan penjelasan segi mana yang akan dikoreksi siswa. Hal ini akan memberikan pengalaman siswa bagaimana cara menilai sehingga siswa akan juga dapat menilai hasil pekerjaannya sendiri.

Penilaian Pembelajaran

Keberhasilan belajar dan mengajar bergantung pada keyakinan kita tentang faktor-faktor pendukung terjadinya pembelajaran yang efektif dan efisien. Beberapa faktor mengajar yang perlu diperhatikan supaya proses belajar berlangsung baik antara lain:

1)      Kesempatan untuk belajar, kegiatan pembelajaran perlu menjamin pengalaman siswa untuk secara langsung mengamati dan mengalami proses, produk, keterampilan, dan sikap yang diharapkan.

2)      Pengetahuan awal siswa, kegiatan belajar perlu mengaitkan dengan pengetahuan awal siswa, keterampilan dan sikap yang dimiliki sambil memperluas dan menunjukkan keterbukaan pada cara pandang dan tindakan sehari-hari.

3)      Refleksi, kegiatan mengajar perlu menyediakan pengalaman belajar bermakna yang mampu mendorong tindakan (aksi) dan renungan (refleksi) pada siswa.

4)      Motivasi, kegiatan mengajar harus perlu menyediakan pengalaman belajar yang memberi motivasi dan kejelasan tujuan.

5)      Keragaman individu, kegiatan mengajar perlu menyediakan pengalaman belajar yang memertimbangkan perbedaan individu.

6)      Kemandirian dan kerjasama, kegiatan mengajar perlu menyediakan pengalaman belajar yang mendorong siswa untuk belajar secara mandiri maupun melalui kerja sama.

7)      Suasana yang mendukung, sekolah dan kelas perlu diatur lebih aman dan lebih kondusif untuk menciptakan situasi supaya siswa belajar lebih efektif.

8)      Belajar untuk kebersamaan, kegiatan mengajar menyediakan pengalaman belajar yang mendorong siswa untuk memiliki simpati, empati, dan toleransi pada orang lain.

9)      Siswa sebagai pembangun gagasan, kegiatan mengajar menyediakan pengalaman belajar yang mengakomodasi pandangan bahwa pembangun gagasan adalah siswa sedangkan guru hanya sebagai penyedia kondisi supaya peristiwa belajar berlangsung.

10)  Rasa ingin tahu, krativitas, dan ketuhanan, kegiatan mengajar menyediakan pengalaman yang memupuk rasa ngin tahu, mendorong kraetivitas dan selalu mengagungkan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa.

11)  Menyenangkan, kegiatan mengajar perlu menyediakan pengalaman belajar yang menyenangkan siswa.

12)  Interaksi dan komunikasi, kegiatan mengajar perlu menyediakan pengalaman belajar yang meyakinkan siswa terlibat secara aktif secara mental, fisik, dan sosial.

13)  Belajar dan cara belajar, kegiatan mengajar perlu menyediakan pengalaman belajar yang memuat keterampilan belajar sehingga siswa terampil belajar.

Penilaian berbasis kelas merupakan penilaian yang dilakukan secara terpadu dengan kegiatan belajar mengajar di kelas (berbasis kelas) melalui pengumpulan kerja siswa (portofolio), hasil karya (produk), penugasan (proyek), kinerja (performen) dan tes tertulis (paper and pen).

Format Penilaian Menulis

No ASPEK SKOR BOBOT
1 Gagasan/Ide/Tema 1-40 40%
2 Bahasa (EYD, Pilihan Kata) 1-30 30%
3 Penyajian (Kemenarikan) 1-20 20%
Jumlah Skor 100 100%

Aspek penilaian di atas dapat disesuaikan dengan tingkat dan jenjang siswa atau sesuai dengan aspek apa yang diinginkan untuk dinilai terhadap anak.

  • Disarikan dari TOT Guru Pemandu KKG SD in service 2 di LPMP Jawa Tengah, materi disampaikan oleh Widyaiswara LPMP Drs.Slamet Trihartanto
About these ads
Kategori:Pembelajaran Tag:
  1. koko
    22 November 2009 pukul 03:08

    minta ijin ak copy ya

    • wyw1d
      22 November 2009 pukul 03:25

      Silakan,jangan lupa cantumkan sumbernya ya.Terimakasih sudah berkunjung, jangan sungkan bila ingin datang lagi.

  2. allien
    6 Desember 2009 pukul 06:00

    allien :
    mas……bs tlng bantu aku menyusun proposal PTK dong, aku mau skripsi S1 PAUD , skr aku ngajar di PAUD, makasih banyak sebelumnya

    • wyw1d
      6 Desember 2009 pukul 08:21

      Kalu mbuat proposalnya sementara ini saya belum ada waktu Mbak, tapi kalau rambu-rambu penulisan PTK ada.Silakan lihat postingan saya yang berjudul Rambu-rambu penulisan PTK di “Daftar Menu Spesial” Makasih ya atas kunjungannya.Mudah-mudahan kalau ada kesempatan saya buat postingan tentang proposal PTKnya.

  3. 29 Desember 2009 pukul 08:21

    mas….tolng bantu cari sgala hal yg berkaitan dg teori ttg Mengarang ato Menulis Karangan dong (arti, faktor yg mempengaruhi, aspek, dsb), sumber referensi bukunya juga, utk tambahan bahan tugas akhir saya, makasih banyak sebelumnya y mas

  4. wyw1d
    29 Desember 2009 pukul 08:35

    Saya tidak bisa menjanjikan, karena keterbatasan waktu. Tetapi akan saya usahakan pada postingan yang akan datang.Rajin-rajin saja berkunjung ke sini barangkali sudah ada. Terimakasih ya atas kunjungannya.

  5. subliansyah
    7 April 2010 pukul 10:28

    Blog dengan artikel yang bagus dan bermanfaat. Mohon ijin copy, ya. Thanks a lot.

  6. Deltha
    15 April 2010 pukul 14:39

    mas…bisa bantu ga tentang “teknik Reka Cerita Gambar” definisi menurut para ahli. di tggu mas.

  7. dian
    2 Mei 2010 pukul 12:22

    tulisan anda bagus, maka dari itu saya ingin mengcopy boleh, untuk kajian skripsi saya trim’s sebelumnya.

  8. meiza
    14 November 2010 pukul 14:30

    mas, terima kasih makalahnya, aku lagi membuat thesis tentang “meningkatkan kemampuan siswa untuk menulis paragraf melalui gambar seri”, ada teori pakar tentang ambar seri ngak mas? bagi dong, membantu orang kesulitan erpahala lho, thax

  9. sylviana almuthahar
    30 April 2011 pukul 14:48

    terima kasih saya mendapatkan apa yang ingin saya ketahui,semoga Allah membalas kebaikan Bapak dan memberikan Bapak pendalaman ilmu yabg lebih luas lagi sehingga bisa memberikan pencerahan kepada orang orang seperti saya

  10. 27 November 2011 pukul 09:21

    terimakasih akhirnya saya mendapatkan apa yang saya cari utuk referensi modul saya.

    • 4 Desember 2011 pukul 16:35

      Terimakasih mas/mbak Aoelisya,
      senang berbagi dengan Anda
      salam hangat jabat erat ya

  11. adi
    8 Februari 2012 pukul 17:29

    mas carikan pengertian media cerita bergambar dong sama referensinya…trima kasih sebelumnya

  12. Ratni
    10 Februari 2012 pukul 06:15

    Trimakasih, tulisan ini sangat membantu saya dalam belajar

  13. hery
    13 Februari 2012 pukul 21:12

    maaf,aku dah copy tanpa ijin.

  14. Puji Handayani
    19 Februari 2012 pukul 05:42

    Terimakasih sekali sangat bermanfat bg kami dan rekan gr yg akan mgikuti UKA……

  15. nuryanto
    20 Februari 2012 pukul 19:42

    mksh bngt,informasinya.

  16. Tita Puspita
    13 Desember 2012 pukul 20:31

    Pak, minta info referensi ttg materi menulis ini ya!
    Judulnya apa dan penulisnya siapa?

  17. CUCU PURNAMASAEAI
    14 April 2013 pukul 02:33

    MAKASIH ^^

  1. 11 September 2012 pukul 20:33

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 50 pengikut lainnya.