Beranda > Pendidikan > Sertifikasi Guru dan Kualitas Pendidikan

Sertifikasi Guru dan Kualitas Pendidikan


Sejak program sertifikasi digulirkan sudah sekian guru merasakan tambahan satu kali gaji, bahkan ada yang sampai ngrapel beberapa bulan. Setelah menerima tunjangan sertifikasi tersebut apakah ada peningkatan kinerja guru secara signifikan sampai saat ini masih belum diketahui karena belum diadakan survey dan superfisi. Kabar-kabarnya sih baru akan.

Namun setelah diseminarkan, menurut beberapa pengamat berpendapat bahwa ternyata sertifikasi guru sebagai pembuktian peningkatan kualitas intelektual profesi pendidik belum bisa dibuktikan. Umumnya guru hanya sekadar mengejar sertifikat demi meningkatkan penghasilannya. Demikian hal itu terungkap pada diskusi “Guru Bersertifikat Vs Guru Intelektual”, yang digelar Sampoerna Foundation di Sampoerna School of Education, Jakarta, Selasa (24/11) siang. Dalam paparannya, Lodi F Paat, koordinator Koalisi Pendidikan, mengatakan, sejauh ini guru hanya dijadikan sebagai operator pendidikan.
“Di sekolah mereka menjadi operator bagi kebijakan pemerintah, buku-buku pelajaran, ujian, dan sebagainya, yang membuat ketidakjelasan orientasi tentang guru seperti apa yang ingin diharapkan melalui LPTK,” ujar Lodi.
Sertifikasi guru melalui Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) itu, lanjut Lodi, tidak membentuk guru melakukan kerja intelektualnya. (Waduh, betul nggak kira-kira pendapat Lodi F Paat tersebut ya?).

Dalam lingkupnya sebagai pekerja intelektual, guru seharusnya tidak memisahkan kerja konseptual, perencanaan, perancangan, serta implementasi.
Sebaliknya, menurut Suparno, Kasubbid Pendidikan Dasar dan Luar Biasa Direktorat Profesi Pendidik Departemen Pendidikan Nasional, program sertifikasi guru sudah sesuai tujuannya seperti yang termaktub dalam Undang-Undang RI No 14/2005 tentang Guru dan Dosen (UUGD) dan Peraturan Pemerintah RI No 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang menyatakan guru adalah pendidik profesional.
Untuk itu, kata Suparno, guru saat ini dipersyaratkan memiliki kualifikasi akademik minimal sarjana/diploma IV (S-1/D-4) yang relevan dan menguasai kompetensi sebagai agen pembelajaran. ( hehehe ….kenyataannya banyak tuh yang D2 sudah lolos sertifikasi Pak, tinggal tunggu uangnya cair saja!).

“Yang tentu saja untuk meningkatkan kualitas mereka, dan pemenuhan persyaratan kualifikasi akan mereka buktikan dengan ijazah dan persyaratan yang relevansinya mengacu pada jenjang pendidikan yang dimiliki dan mata pelajaran yang dibinanya,” kata Suparno.

Sejatinya, guru adalah kunci utama keberhasilan pendidikan. Profesi guru adalah profesi pendidik yang profesional dan berkualitas, yang seperti pada profesi lainnya, profesi tersebut juga harus memenuhi standar kualitas guru.

Namun, menurut pendiri Sekolah Tanpa Batas Bambang Wisudo, saat ini program sertifikasi itu justru sama sekali tidak menyentuh persoalan kualitas yang dimaksud dalam undang-undang tersebut, kecuali bertujuan untuk memperbaiki penghasilan guru.

Sertifikasi, kata Bambang, ibarat jalan pembuka saja karena yang sebetulnya dibutuhkan adalah kelanjutan dari sertifikasi itu sendiri.

“Itu yang seharusnya dipikirkan oleh pemerintah, yaitu setelah sertifikasi lalu apa, sebab program itu tidak sama dengan peningkatan kualitas guru, kalau tidak ada, ya, sama saja,” ujar Bambang.

Bambang melanjutkan, selama puluhan tahun akuntabilitas dan otonomi guru telah dirampas. Dan kenyataannya,sertifikasi tidak berbuat banyak untuk menolong kondisi tersebut.

“Benar kalau dikatakan bahwa guru adalah operator pendidikan, sebab akuntabilitas mereka sebagai pendidik selama ini telah digerogoti oleh berbagai kebijakan, buku-buku pelajaran, metodologi pembelajaran, dan sebagainya yang membuat mereka tidak kompeten sebagai pendidik,” ujarnya. Kompas.com

( kasihan ya guru hanya sebagai korban dari sebuah kebijakan ).

About these ads
  1. 21 Desember 2009 pukul 08:16 | #1

    Saya pernah membaca sebuah artikel yang dimuat di sebuah koran, di situ dijelaskan bahwa Pendidikan kita terlalu menekankan peserta didiknya agar suksek dalam hidupnya. Lembaga pendidikan tidak memberikan materi bagaimana mensiasati agar anak didiknya keluar dari permasalahan. Tidak ada pendidikan menghadapi stress, deperesi, dan sejenisnya. Akibatnya lulusan pendidikan banyak mengalami tekanan mental. Fenomena pengangguran terdidik tidak asing lagi. Bagaiman carut marut pendidikan kita.

  2. wyw1d
    21 Desember 2009 pukul 08:41 | #2

    Pendidikan menghadapi stress memang tidak ada, biasanya kalau ada anak didik stress dan depresi sudah ditangani oleh guru BP ( Bimbingan Penyuluhan). Guru Kelas sebatas membantu semampunya.
    Senang saya mendapat kunjungan dan komentar dari Mas Handikas.Terimakasih ya, jangan sungkan datang lagi ya.

  3. darno
    20 Februari 2010 pukul 08:23 | #3

    Bagi PNS yg bukan guru jelas mrpkan suatu kebijakan yg dirasakan sebagai “anak tiri” bgmana ketimpangan dan kecemburuan yg dirasakan. dgn tunjangan yg begitu besa. Disaat krisis yg spt ini bgamana uang dihamburkan hanya untuk memperbesar perut guru yg sebelumnya tlah punya penghasilan yg memadai, sementara byk rakyat msh di bwh garis kemiskinan. Apakah anggaran pendidikan yang besar cm buat itu? Apakah tdk ada koreksi dari kebijakan ini? apalagi kualitas guru yg msh memprihatinkan bisa ditanggulangi dg tunjangan yg begitu besar? Kalau begitu rendahnya output anak didik yang rendah dg, gak usah kita nyalahkan anak didik, orang tua, kita salahkan 100% guru. itulah konsekwensi besar dg adanya sertifikasi.

  4. 20 Februari 2010 pukul 11:59 | #4

    Terimakasih, atas tanggapan Pak Darno, memang akan terjadi kecemburuan.Guru sertifikasi sebenarnya memang mempunyai beban moral karena mengantongi sertifikat guru profesional dan tentu saja tanggung jawabnya lebih besar daripada guru blm bersertifikasi. Mudah-mudahan dengan guru bersertifikasi pendidikan di Indonesia bisa meningkat atau lebih baik lagi. Salam hangat dariku.

  5. ade
    27 Juni 2010 pukul 10:15 | #5

    thx y infonya.. ^^
    saya senang membaca blog ini,
    sangat bermanfaat.. :)

  6. 20 Maret 2012 pukul 08:26 | #6

    Reblogged this on catatanijar and commented:
    Izin me re-blog ya Pak Rachmad Widodo..tulisan bapa ini bagus pak, berkaitan dengan tugas skripsi saya pak..terima kasih pak

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 49 pengikut lainnya.