Beranda > Pendidikan > Pro Kontra Teori Kecerdasan Ganda (Multiple Intelligence)

Pro Kontra Teori Kecerdasan Ganda (Multiple Intelligence)


Latar Belakang

Dunia pendidikan di Indonesia akhir-akhir ini cukup ramai dan menarik dengan adanya hingar bingar masalah KTSP dan terlebih lagi setelah munculnya permasalahan pelaksanaan UN dan polemik serta efek yang ditimbulkannya. Pada dasarnya masalahnya tidak serumit yang dibayangkan orang, asalkan orang  tahu hakekat dan esensi pendididkan yang sebenarnya, yaitu bermuara pada anak didik. Sehingga semua tindakan pendidikan adalah demi anak didik, bukan demi guru, demi sekolah, atau demi alasan-alasan yang lainnya.

Di samping itu sampai sekarang dalam masalah kecerdasan anak baik sekolah maupun masyarakat termasuk juga jajaran birokrasi telah memberikan fokus yang lebih banyak pada kecerdasan/kepandaian di bidang Bahasa dan Logika Matematika dengan memberikan pengharagaan yang tinggi kepada mereka. Meskipun pada kenyataannya tiap anak mempunyai kecerdasan atau kemampuan berbeda-beda yang sebenarnya patut kita beri apresiasi yang layak. Misalnya kecerdasan di bidang seni (seni music, seni suara, seni lukis, seni tari, dsb), ketrampilan, computer, dsb. Kecerdasan mereka ikut meramaikan dunia serta membuat hidup kita penuh warna dan terasa nyaman serta tidak hambar.

Agar dapat memahami kecerdasan dan kemampuan anak/siswa, kita dapat mengkaji, mengetahui dan  memahami teori Kecerdasan Ganda (Multiple Intelligence) yang pertama kali dilontarkan oleh Dr Howard Gardner tahun 1983 di Harvard University, Amerika Serikat. Teori ini menyatakan bahwa ada 8 jenis kecerdasan atau kemampuan anak-anak dan orang dewasa, sehingga kecerdasan berdasarkan tes IQ saja amat terbatas sifatnya. Teori ini banyak menjawab pertanyaan sebagian guru, umpamanya ada anak didik yang sehari-harinya baik dan cerdas tertapi tidak lulus tes atau ujian dan sebaliknya. Teori tentang adanya beberapa macam jenis kecerdasan pada anak didik ini memberikan pada kita dan mereka yang berkecimpung dalam  dunia pendidikan   dan pembelajaran satu cara untuk mulai mengetahui anak didik semacam itu. Kita akan melihat apa yang dapat mereka kerjakan dengan baik, dan bukannya apa yang tidak dapat mereka kerjakan-Positive thingking.

Teori Kecerdasan Ganda Gardner

Teori awal Multiple Intelligence (MI) ini terdapat dalam bukunya “Frame of Mind: the Theory of Multiple Intelligences” tahun 1983 yang menyebutkan adanya 7 jenis kecerdasan, lalu ditambah satu lagi menjadi 8 jenis kecerdasan. Buku-buku Gardner yang terbit setelah itu seperti The Unschooled Mind: How Children Think and How School Should Teach (1991) dan Multiple Intelligences: The Theory in Practice (1993) benar-benar membantu para guru dan kita semua memahami bagaimana MI atau Kecerdasan Ganda membantu mereka untuk lebih memahami dan mengevaluasi anak didik dengan memakai cara baru yang lebih pas dan relevan lagi.

Teory Gardner ini merupakan teori yang mencakup bidang psikologi dan pendidikan yang mengetengahkan adanya 8 jenis kecerdasan pada manusia yang tiap satunya berhubungan dengan lingkup yang berbeda pada kehidupan manusia dan aktivitasnya. Menurut teori ini para pendidik akan bisa menjangkau semua siswanya jika mereka membuat program pembelajarannya memenuhi kesemua jenis kecerdasan para peserta didiknya. Teori ini telah benar-benar mempertanyakan asumsi-asumsi tentang kecerdasan yang sampai saat itu masih dipegang penuh oleh sebagian besar orang yang menganggap hanya ada satu ukuran kecerdasan saja dan satu-satunya, yaitu melalui tes IQ (belakangan muncul tes EQ,  tes ESQ, TOEFL,dsb).

Ke delapan kecerdasan menurut teori Gardner yaitu :

  1. Kecerdasan Bahasa ( Verbal/Linguistic Intelligence).
  2. Kecerdasan Logika-Matematika (Logical Mathematical Intelligence).
  3. Kecerdasan Keruangan/Gambar (Visual/Spatial Intelligence).
  4. Kecerdasan Gerakan (Bodily/Kinesthetic Intelligence).
  5. Kecerdasan Musik (Music/Rhythmic Intelligence).
  6. Kecerdasan Interpersonal ( Interpersonal Intelligence).
  7. Kecerdasan Intrapersonal ( Intrapersonal Intelligence).
  8. Kecerdasan Alam ( Naturalist Intelligence).

**Masing-masing jenis kecerdasan tersebut di atas akan dijabarkan dalam postingan tersendiri.

Kritik Pada Teori Gardner

Meskipun teori Gardner sudah dapat diterima sebagian masyarakat, namun ada juga beberapa kritikan terhadap teori ini. Yaitu Gardner dianggap tidak mempunyai definisi “kecerdasan” yaitu ketika mengatakan bahwa setiap orang itu ‘cerdas’ pada jalurnya/bidangnya. Gardner mengaburkan istilah kecerdasan dengan apa yang biasa disebut orang oleh sebagian besar orang sebagai “kemampuan” saja. Tragisnya ada juga yang menuduh bahwa teori Gardner belum diterima oleh semua ahli pendidikan dan dunia akademis. Ada pula yang menuduh teorinya tidak bisa diterapkan di dalam ruangan kelas/sekolah.

Dalam dunia ilmu pengetahuan hal itu tentu lumrah dan sah-sah saja. Apapun kritikan dan sanggahan terhadap teori Gardner tidak menjadi masalah sebab hal itu hal yang biasa tiap ada pendapat baru mesti ada yang pro dan ada yang kontra. Yang jelas dengan teori Gardner ini kita telah mempunyai salah satu landasan yang kuat untuk melihat dan menilai bahwa anak didik kita mempunyai berbagai kemampuan yang masing-masing saling melengkapi dan saling mengisi. Anak yang ahli dalam matematika tidak lebih baik atau lebih pintar dari yang ahli seni musik atau ahli komputer. Keduanya adalah kompetensi/kemampuan yang berbeda yang tidak perlu diperdebatkan atau diadu mana yang lebih baik serta kita perlakukan secara adil. Kecerdasan dan kemampuan itu ada dan akan memberikan makna dan warna pada kehidupan. Ada ahli matematika, ahli sains, ahli computer, ahli seni, ahli bahasa dan sebagainya.

Adalah tidak pada tempatnya untuk menganakemaskan beberapa kemampuan anak didik dan menganaktirikan atau bahkan mengabaikan kemampuan anak didik yang lain cuma karena kurang populer, kurang prospektif,dsb. Semuanya ada dalam kehidupan nyata dan diperlukan. Dan karena kedelapan jenis kecerdasan ini ada di dalam kelas dan dunia belajar mengajar maka mereka perlu mendapatkan pelayanan yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan mereka. Jadi seperti dalam novel Laskar Pelangi, biarlah  Lintang cerdas dalam matematika, Ikal cerdas dalam sastra, syahdan pandai dalam dunia komputer atau Kucai pandai berpidato seperti politikus. Mereka adalah anak-anak bangsa, tunas bangsa dan harapan bagi kita semua.

Silakan melanjutkan postingan berikutnya : Kecerdasan Bahasa (Verbal/Linguistic Intelligence) dengan mengklik di sini.

About these ads
  1. ade
    27 Juni 2010 pukul 09:59

    thx y infonya.. ^^
    saya senang membaca blog ini,
    sangat bermanfaat..

  2. marlin
    21 September 2011 pukul 10:48

    terima kasih atas infonya, insya’Allah bermanfaat^^

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 50 pengikut lainnya.