Gawat, Setiap Tahun Indonesia Kehilangan Orang Jenius dan Brilian!
Setiap tahunnya telah tercatat sekian juta tenaga kerja Indonesia yang terhitung cukup potensial melakukan eksodus ke luar negeri demi meraup dollar yang sangat menggiurkan. Tidak hanya sebatas TKI pembantu rumah tangga saja, namun juga tenaga medis, guru dan dosen, konsultan dan arsitek. Barangkali kepergian mereka ke luar negeri tidaklah begitu terasa sehingga menjadi perhatian kita semua karena mereka juga menghasilkan devisa bagi negara. Tetapi apabila yang eksodus ke luar negeri adalah siswa dan pelajar cerdas dan jenius kita yang notabene adalah generasi brilian kita dan SDM kualitas super, maka sanggupkah kita menutup mata dan tak hiraukan mereka? Para Doktor, Insinyur, Dosen dan kaum cerdik pandai ternyata lebih memilih Negara lain sebagai tempat belajar dan bekerja mengabdikan ilmunya. Di antara mereka bahkan ada yang berhasil meraih gelar prestisius seperti termuat dalam postingan saya sebelumnya : Dr Yanuar Nugroho terpilih sebagai staf akademik terbaik universitas Manchester, dan Irwandi Jaswir peraih anugerah saintis muda Asia Pasifik 2009. Nah, jika hal ini dibiarkan berlarut-larut bukan mustahil Indonesia akan semakin tertinggal jauh dengan Negara lain termasuk Negara tetangga terdekat seperti Singapura dan Malaysia. Gawat!
Seperti apa yang dikatakan oleh Said Didu Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia dan Sekretaris Menteri Negara BUMN yang mengemukakan analisisnya dalam pidato Said Didu di acara Persatuan Insinyur Indonesia di Jakarta pada tanggal 21 Desember 2009. Demikian analisisnya.
Vivanews. Tahun 2009 segera berakhir, 2010 menjelang. Tanpa disadari, waktu terus berganti. Padahal, dibalik pergantian tahun itu, bangsa Indonesia tengah menghadapi persoalan serius. Jika dibiarkan, persoalan ini akan menimbulkan masalah besar pada jangka panjang.
Bahkan, persoalan tersebut nyata ada di depan mata. Ironisnya, ini belum disadari oleh pemerintah dan masyarakat pada umumnya. Akibatnya, masalah ini terus berlarut-larut sehingga merugikan Indonesia.
Salah satu fenomena yang menonjol itu adalah semakin kuatnya kecenderungan orang pintar Indonesia yang mendapat gelar doktor dari luar negeri, memilih tinggal dan bekerja di luar negeri. Mereka adalah doktor-doktor terbaik lulusan Yale, Cranfield, Stanford, MIT dan lain-lain. Umumnya mereka bergelut di bidang ilmu eksakta dan engineering seperti teknik, fisika, matematika komputer, dan sejenisnya.
Tahun 2007 saja sekitar 20-an doktor Indonesia lulusan luar negeri memilih bekerja di Malaysia, 3 orang bekerja di Brunei, dan sekitar 5 orang di Singapura. Setiap tahun Depdinkas dibanjiri permintaan para doktor yang sudah selesai ikatan dinas untuk diizinkan bekerja di luar negeri. Padahal untuk “mencetak” seorang doktor di perguruan tinggi bergengsi di luar negeri, biaya yang dibutuhkan lebih dari $30 ribu per tahun.
Ada beberapa alasan mengapa terjadi eksodus :
Pertama : Remunerasi
PTN tempat mereka bekerja sebelumnya tidak mampu memberikan remunerasi yang layak. Sementara gaji mereka di Malaysia sekitar Rp 50 juta per bulan, belum termasuk fasilitas perumahan dan pendidikan gratis untuk anak mereka.
Kedua : Tantangan pengembangan ilmu
Banyak dari mereka yang butuh situasi kerja yang benar-benar membawa tantangan. Mereka ingin sekali agar ilmu yang mereka dapatkan benar-benar dapat didayagunakan secara optimal. Malaysia dan negara lain mampu menghadirkan hal tersebut, salah satu contohnya adalah Malaysia saat ini telah mengembangkan Pusat Biotech Valley di Petaling Jaya, Kuala Lumpur, semacam Silicon Valley di Amerika Serikat.
Indonesia juga terancam kehilangan generasi cerdas dan brilian, karena sebagian besar anak-anak cerdas peraih penghargaan olimpiade sains internasional memilih menerima tawaran belajar dari berbagai universitas di luar negeri, terutama Singapura.
Pemerintah hanya memberikan fasilitas masuk perguruan tinggi negeri tanpa tes dan siswa bersangkutan dijanjikan akan diberikan beasiswa. Sementara Singapura lebih agresif dengan memburu siswa-siswa brilian ke sejumlah sekolah di Indonesia lewat agen yang tersebar di sejumlah kota, seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan.
Siswa-siswa brilian itu dijanjikan fasilitas yang menggiurkan. Selain beasiswa, siswa cerdas juga ditawari subsidi biaya kuliah (tuition grant) dari Pemerintah Singapura sebesar 15.000 dollar Singapura (sekitar Rp 112,5 juta per tahun), atau pinjaman bank tanpa agunan untuk biaya kuliah. Jika siswa mengambil pinjaman bank, cicilan pinjamannya dibayar setelah mereka bekerja.
Sekitar 250-300 siswa cerdas Indonesia setiap tahun pergi ke Singapura untuk kuliah di perguruan tinggi seperti Nanyang Technological University, National University of Singapore, dan Singapore Management University. Dari total pelajar dan mahasiswa Indonesia di Singapura sebanyak 18.341 orang, sekitar 5.448 orang di antaranya sedang mengambil S-1, S-2, dan S-3 di berbagai program studi. Singapura menargetkan merekrut 150.000 mahasiswa asing hingga tahun 2015.
Harus ada kebijakan terobosan untuk mempertahankan siswa-siswa cerdas dan brilian tetap menjadi aset Indonesia. Mereka memang perlu mengembangkan ilmu ke berbagai universitas terkemuka di dunia, namun harus diciptakan kondisi yang mendukung agar mereka bergairah kembali ke Tanah Air untuk mengabdikan ilmunya untuk kemajuan bangsa Indonesia.
Nah, sekarang bagaimana reaksi kita jika kenyataan riil di lapangan ternyata memang demikian adanya? Salahkah mereka eksodus ke luar negeri jika ternyata di negeri sendiri kurang mendapat perhatian dan penghargaan? Jawabannya saya kembalikan kepada para tamu istimewa blog ini.













udah pernah baca sepertinya admin. tapi nice info deh…
Hehehe..memang saya dapat ide dari Vivanews, di sini saya masukkan opini saya.Makasih ya sudah mampir ke blog sederhana ini.
Dilematis memang. Negeri ini membutuhkan banyak orang cerdas, tetapi tidak sanggup kalau tidak boleh saya katakan tidak mau, ngopeni mereka secara materi. Semoga ke depan pemerintah semakin lebih menghargai orang2 pinter ini. Semoga juga mereka yang pinter tersebut juga semakin sadar bahwa negeri ini sangat membutuhkan mereka.
Begitulah adanya, kenyataannya. Padahal kita tahu Indonesia sangat kaya.
Senang dan bangga saya mendapat kunjungan Pak M Mursyid PW. Jadi tambah semangat ngeblog.
Kesalahan patal didunia pendidikan,terutama mendikknas tidak punya program untuk anak Indonesia yang genius,seandainya saja tiap tahun kita cari ank genius tiap kabupaten 1 orang dididik sesuai dengan bakat minat dan otaknya dipasilotas oleh negara dan dipekerjaan oleh negara dengan hasil pendidikan yang mereka peroleh maka prifod dan tambang serta hasil lainnya tidak akan terkuras oleh amerika,sekarang ini pemerintah kita zolim makanya mulai dari SBY sampai kekades semua mau mwemperkaya diri tidak memikirkan bangsa ,saya berkeyakinan kalaU BEGINI TERUS BANGSA INI maka Allah akan mencabut nikmat dan menurunkan azab,ingat bangsa bangsa yang dulunya jaya dalam alquran dan tohnya ditengggelamkan Allah,kaum ad kaum tsamud,akibat mereka inikar,saya selaku seorang pendidik sedih ,apalagi ujian akhir semua diajari tidakm ada yang bersih,yang ujian bukan anak tapi guru, karena kepesek takut dicopot kalau siswanya banyak tak lulus,ini bukan rahasia umum lagi ,saya sediiiiiiiiiiiiiiih hancur mina dunia pendidikan ,
Benar sekali ulasan dari Pak Kaprawi Imyuh, saya sependapat. cukup tajam analisanya.
Terimakasih Pak Kaprawi Imyuh, atas tanggapannya.
mereka yang “eksodus” tidak boleh disalahkan dengan dalih nasionalisme
kita harus menghargai mereka yang memerlukan pengakuan profesionalisme
kalau disini yang pinter malah dikebiri
jangan salahkan mereka yang lari
kalau tuntutannya hanya materi
mengapa tidak dituruti?
Benar Pak Budi, kita tidak boleh langsung memvonis mereka dengan dengan tidak adil. Bagaimanapun juga mereka butuh pengakuan, penghargaan dan ‘materi’ bukan cuma selembar kertas penghargaan.
Terimakasih atas ulasannya Pak Budi.
wahh…
bararti saya harus tetep di indonesia nih,
biar indonesia gak kehilangan orang jenius lagi.. hehe
*pede mode on*
Ya Mbak jangan kemana-mana ya. Di sini saja hehehe…
wah terima kasih nih infonya,,