Benarkah Pendidikan Kita Mengabaikan Pendidikan Karakter
Pendidikan saat ini hanya mengedepankan penguasaan aspek keilmuan dan kecerdasan anak. Jika anak sudah mencapai nilai atau lulus dengan nilai akademik memadai/di atas KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) maka pendidikan dianggap sudah berhasil. Adapun pembentukan karakter dan nilai-nilai budaya bangsa di dalam diri siswa semakin terpinggirkan. Maka kita jangan heran jika ada seorang anggota Dewan atau tokoh masyarakat melakukan tindakan atau ucapan yang kurang senonoh di depan publik.
Rapuhnya karakter dan budaya dalam kehidupan berbangsa bisa membawa kemunduran peradaban bangsa. Padahal, kehidupan masyarakat yang memiliki karakter dan budaya yang kuat akan semakin memperkuat eksistensi suatu negara.
”Indonesia dikenal memiliki karakter kuat sebelum zaman kemerdekaan, tatkala mencapai kemerdekaan, dan mempertahankan kemerdekaan. Sekarang, karakter masyarakat Indonesia tidak sekuat pada masa lalu, sangat rapuh. Pemimpin saat ini juga tidak menjaga pembangunan karakter dan budaya bangsa,” kata Yahya Muhaimin, mantan Menteri Pendidikan Nasional, salah satu pembicara dalam acara Sarasehan Nasional Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa yang diadakan Kementerian Pendidikan Nasional di Jakarta, Kamis (14/01/2010). Menurut Yahya, pembangunan karakter mesti menjadi program nasional. Dalam pendidikan, pembentukan karakter dan budaya bangsa pada siswa tidak mesti masuk kurikulum. Nilai-nilai yang ditumbuhkembangkan dalam diri siswa berupa nilai-nilai dasar yang disepakati secara nasional yang berdasarkan pada agama dan kenegaraan. Misalnya, kejujuran, dapat dipercaya, kebersamaan, toleransi, tanggung jawab, dan peduli kepada orang lain.
Franz Magnis-Suseno, guru besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, mengatakan, yang dibutuhkan bukan hanya karakter kuat, tetapi juga benar, positif, dan konstruktif. Namun, untuk membentuk anak-anak didik yang berkarakter kuat tidak boleh ada feodalisme para pendidik. Jika pendidik membuat anak menjadi ”manutan” dengan nilai-nilai penting, tenggang rasa, dan tidak membantah, karakter anak tidak akan berkembang. Kalau kita mengharapkan karakter, anak itu harus diberi semangat dan didukung agar ia menjadi pemberani, berani mengambil inisiatif, berani mengusulkan alternatif, dan berani mengemukakan pendapat yang berbeda. Ia harus diajarkan untuk berpikir sendiri..
Sedangkan Pemimpin Pondok Modern Darussalam Gontor KH Syukri Zarkasi mengatakan, kita mesti tahu orientasi pendidikan supaya tidak sekadar mendapat ijazah untuk mencari kerja. Pendidikan yang utama adalah membangun karakter.
Mendiknas sendiri mengatakan, kerisauan dan kerinduan banyak pihak untuk kembali memperkuat pendidikan karakter dan budaya bangsa direspons dengan baik. Pemerintah membutuhkan masukan, antara lain, menyangkut model-model pengembangan karakter dan budaya bangsa sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pendidikan nasional. Tekad pemerintah menjadikan pengembangan karakter dan budaya bangsa sebagai bagian yang tak terpisahkan dari sistem pendidikan nasional harus dimaknai serius karena butuh banyak pengorbanan.
Di acara tersebut Mendiknas mengatakan, kerisauan dan kerinduan banyak pihak untuk kembali memperkuat pendidikan karakter dan budaya bangsa direspons dengan baik. Pemerintah membutuhkan masukan, antara lain, menyangkut model-model pengembangan karakter dan budaya bangsa sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pendidikan nasional.
Seperti diberitakan sebelumnya, persoalan mengenai pendidikan karakter dan budaya bangsa mengemuka dalam “Sarasehan Nasional Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa” yang diadakan Kementerian Pendidikan Nasional di Jakarta, Kamis (14/1/2010).
Pemerintah menyatakan, bahwa pendidikan budaya dan karakter bangsa selama ini telah diterapkan dan menjadi kesatuan dengan kurikulum pendidikan yang sesungguhnya telah dipraktekkan dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah.
Demikian dikatakan oleh Direktur Pembinaan SMP Ditjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Didik Suhardi di Jakarta, menjawab pers tentang langkah konkret penerapan pendidikan karakter bangsa kepada peserta didik. Pendidikan budaya dan karakter bangsa ini memang harus dipraktekkan, titik beratnya bukan pada teori.
Menurutnya, pendidikan budaya dan karakter bangsa seperti kurikulum yang tersembunyi. Didik mengakui, banyak keluhan masyarakat tentang menurunnya tata krama, etika, dan kreativitas siswa karena melemahnya pendidikan budaya dan karakter bangsa. Soal implementasi yang mulai mengendur bisa saja terjadi. Tapi, masih banyak sekolah yang mampu memadukan kegiatan belajar mengajar dengan implementasi dalam kehidupan sosial sehari-hari di sekolah.
Keberadaan guru BP kadang dirangkap oleh guru mata pelajaran. Akhirnya, konsep pendidikan karakter tidak pernah bisa optimal. Sebab, syaratnya, pendidikan karakter itu harus holistik, tidak bisa terpisah dengan yang sifatnya kognitif atau akademik ujar praktisi pendidikan, Dr Anita Lie, di Jakarta, Peraih gelar Doktor Bidang Kurikulum dan Pengajaran dari Baylor University, Texas, Amerika Serikat, ini menambahkan bahwa pendidikan karakter sebaiknya tidak dikotomikan macam-macam. Konsep pendidikan tersebut harus diintegrasikan ke dalam kurikulum. Memang, selama ini bimbingan karakter sudah ada di sekolah seperti konseling, tetapi itu bervariasi. Di sekolah guru BP tidak bisa meraih semua, kalau ada masalah datang, kalau tidak, ya tidak.
Selain itu, lanjut Anita, tidak jarang keberadaan guru bimbingan dan penyuluhan (BP) kadang dirangkap oleh guru mata pelajaran.
Syarat menghadirkan pendidikan karakter dan budaya di sekolah harus dilakukan secara holistis. Pendidikan karakter, kata dia, tidak bisa terpisah dengan bentuk pendidikan sifatnya kognitif atau akademik, ini menambahkan bahwa pendidikan karakter sebaiknya tidak dikotomikan macam-macam. Dia katakan, konsep pendidikan tersebut harus diintegrasikan ke dalam kurikulum. Bukan berarti akan diterapkan secara teoritis, tetapi menjadi penguat kurikulum yang sudah ada, yaitu dengan mengimplementasikannya dalam mata pelajaran dan keseharian anak didik. Mata pelajaran biologi, misalnya, siswa bisa diajak langsung menanam tumbuh-tumbuhan, diberi pemahaman tentang manfaatnya, dikaitkan dengan kerusakan lingkungan dan sebagainya. Dikatakannya, pelajaran biologi juga menyangkut hal-hal lain di luar disiplin ilmu tersebut.
Pada mata pelajaran kesenian pun bisa diterapkan pendidikan karakter. Sebutlah contohnya, siswa diajak mengenal dan mempraktikkan beragam peninggalan seni budaya yang menjadi muatan-muatan lokal, falsafah budaya, dan manfaatnya. Masalahnya, mayoritas guru belum punya kemauan untuk melakukan itu. Kesadaran sudah ada, hanya saja belum menjadi sebuah aksi nyata.
Hal tersebut, disebabkan pendidikan Indonesia masih terfokus pada aspek-aspek kognitif atau akademik, baik secara nasional maupun lokal di satuan pendidikan. Sebaliknya, aspek soft skils atau nonakademik sebagai unsur utama pendidikan karakter justeru diabaikan. Karena mengejar target-target akademik itu, sebutlah seperti Ujian Nasional (UN) misalnya, pendidikan karakter akan sulit diterapkan. Kita semua memang masih terpusat pada prestasi akademik. Selama ini pendidikan karakter yang kebanyakan dijalankan di sekolah hanya berbentuk konseling oleh guru Bimbingan dan Penyuluhan (BP), belum menyentuh secara optimal dalam kurikulum.
Padahal seharusnya semua guru bisa menerapkan pendidikan karakter itu, tetapi mereka harus bisa meneguhkan dulu, bahwa di kelas itu mereka juga mendidik, bukan cuma mengajar,” ujar praktisi pendidikan, Dr Anita Lie. Lebih jauh Anita mengatakan, untuk menerapkan pendidikan karakter seluruh sekolah harus memiliki kesepakatan tentang nilai-nilai karakter yang akan dikembangkan di sekolahnya. Unsur-unsur pengembangan karakter itu pun harus diintegrasikan di semua mata pelajaran. Masalahnya, mayoritas guru belum punya kemauan untuk melakukan itu. Kesadaran sudah ada, hanya saja belum menjadi sebuah aksi nyata.
Demikianlah pernyataan beberapa tokoh dan praktisi pendidikan tentang pentingnya pendidikan karakter. Pertanyaannya :
- Sudah benarkah semua statemen tersebut?
- Memang demikiankah kondisi pendidikan di Indonesia?
- Benarkah Pendidikan Kita Mengabaikan Pendidikan Karakter?
Jawabannya saya kembalikan kepada segenap tamu istimewa blog ini. Saya tunggu tanggapannya.













saya lalu ingat tentang esensi pendidikan dengan politik pendidikan
wah yen aku presiden,,, pasti Pak WId jadi mendiknas…lho gak kebalik ta?
Kalau demikian, pasti nanti gajinya pakai uang “Yen” ya Pak Budi?
“Jika pendidik membuat anak menjadi ”manutan” dengan nilai-nilai penting, tenggang rasa, dan tidak membantah, karakter anak tidak akan berkembang. Kalau kita mengharapkan karakter, anak itu harus diberi semangat dan didukung agar ia menjadi pemberani, berani mengambil inisiatif, berani mengusulkan alternatif, dan berani mengemukakan pendapat yang berbeda. Ia harus diajarkan untuk berpikir sendiri..”
wah saya sangat setuju dengan ini … di budaya kita orang/anak yg baik adalah anak yg manutan, padahal tidak mesti begitu yah
Pendidikan seperti itu adalah pendidikan peninggalan jaman feodal Mas hakim. Terimakasih ya atas tanggapannya. Salam hangat jabat erat dariku.
* Sudah benarkah semua statemen tersebut?
* Memang demikiankah kondisi pendidikan di Indonesia?
* Benarkah Pendidikan Kita Mengabaikan Pendidikan Karakter?
Sebagian statemen penting salah banget, Mas Wid.. Misalnya Dr Anita Lie bilang ringan : Kesadaran sudah ada, hanya saja belum menjadi sebuah aksi nyata.. Belum Mas, yang namanya kesadaran itu belum ada. Sadar tentang karakter dulu, terus siapa saja yang harus sadar, mbok ya difikir dulu. Yang ada adalah “clemongan”, nantinya jadi (sekedar!!!) wacana yang membuahkan sederetan dokumen berbagai penelitian tentang karakter plus diseminasinya. Setelah mendiknas ganti, ya wis ganti clemongan lain lagi. Lha kalau membaca akar masalahnya, yaitu posisi kita sebenarnya thd pendidikan karakter, saja salah.. apa akan ada jawaban dan langkah yang benar dan tepat?
Yen aku usul, dan sudah saya lakukan lebih 10 tahun terakhir di tempat saya, pendidikan karakter dimulai dari unit terkecil kita. Mas Wid di Bulu [wis kangen nyekar wanita berkarakter, Kartini... wis kliwat 10 windu...], saya dan temen2 di Bandung, Pak Budi dan Pak Hakim juga di tempat beliau masing2… Sebenarnya ini gejala internasional, tapi di Indonesia terasa sekali mendesaknya. Ciri gerakan pendidikan holistik (mereka secara internasional menyebut diri begitu) ini sayangnya berlawanan dengan semangat para petinggi di atas : GRASSROOT dan dalam kelompok kecil yang militan..
Ada yang salah cara kita menangkap estafet dalam mendidik. Kehebatan Ki Hadjar Dewantara adalah kerja grup, diskusi serius mendidik diri dulu, baru ngurus pendidikan. Mana ada jejak itu di dunia pendidikan kita hari ini? Satu tokoh lagi harus kita simak yaitu Ki Ageng Suryomentaram.. Duet dua bangsawan nyleneh dan gila ini tak sedikitpun diteladani para pendidik hari ini. Sedih Mas Wid..
Pendidikan kita hari ini sangat sangat buruk karena mengabaikan pendidikan karakter.. Tapi yang lebih buruk lagi karena pendidiknya bahkan tak mempunyai kesadaran apa itu karakter.. Inggih Mas Wid, pendidikan kita benar-benar mengabaikan pendidikan karakter.. bahkan meskipun 2 periode mendiknas berikutnya mencanangkan pentingnya pendidikan karakter, akan tetap parah keadaan sifat perbaikannya harus bottom-up, bukan top-down..
Nuwun sewu saya tiba2 nimbrung menjawab 3 pertanyaan Mas Wid.. saya membuka Blog panjenengan melalui predikat prestatif panjenengan Jurukunci Sambongan di blog Sulang Online. Saya juga mulang seperti panjenengan, pernah tinggal di Sulang antara 1966 s.d. 1972 semasa SD dan SMP. Kalau boleh nyuwun pirsa, apakah ada forum diskusi tentang pendidikan karakter ini di Bulu dan sekitarnya (Sulang, Rembang)? Saya dan beberapa temen di Bandung membentuk kelompok kecil diskusi tentang ini berdasarkan peminatan. Sekantor sekitar 200-an pendidik, yang minat gak nganti 20. Kami ingin belajar dari temen2 di Bulu dan Sulang… Matur nuwun..
Sangat berterimakasih sekali saya mendapat kunjungan sekaligus ‘wejangan’ dari Pak Guru Hang di Bandung. Salam kenal dulu ya…..
1). Nah. Pak Hang, postingan saya meskipun terdapat opini/pendapat saya, dan sebagian lagi (yang penting)adalah statemen para pemerhati dan tokoh pendidikan kita. Maka saya mengajak Para Tamu Istimewa Blog ini untuk berpikir dan refeksi sejenak, memang seperti itukah kondisi Pendidikan di Indonesia?.Jika melihat realita di lapangan saya percaya bahwa seluruh guru di Indonesia dari berbagai tingkat pasti sudah menerapkan pendidikan karakter meskipun mungkin dalam porsi kecil/minim.Hal ini mungkin karena terfokus/dikejar target, tengoklah siswa kelas 6 SD atau kelas 3 SMP/SMA yang sebentar lagi mau ujian/UN.
2). Kondisi di Bulu dan Sulang(barangkali) juga seperti kondisi di daerah Pak Hang. Di Bulu setahu saya memang tidak ada forum seperti yang ditanyakan Pak Hang, yang ada KKG bagi guru dan KKKS bagi Kepala sekolah,meskipun yang rawuh pating slenthir/banyak yang ijin namun masih menerapkan pendidikan karakter dalam batas-batas tertentu sebab guru selain sebagai pengajar juga sebagai pendidik.
3). Sekarang saya kembalikan kepada Pak Hang. Jika guru-guru mau jujur, benarkah statemen para tokoh dan pemerhati pendidikan di atas?
4). Kesedihan dan keprihatinan saya terhadap dunia pendidikan rupanya dirasakan juga oleh Pak Hang. Terimakasih.
5). Monggo Pak Hang, tanggapan Panjenengan saya terima dan saya amat berterimakasih sekali.Saya tunggu tanggapan Pak Hang pada postingan saya yang lain.
Salam hangat jabat erat dariku.
hmhm.. bicara mengenai pendidikan dengan segala rencana untuk menjadi lebih baik sangatlah menarik. Dan pendidikan karakter mungkin bisa menjadi alternatif yang bagus untuk meningkatkan kualitas generasi bangsa yang lebih baik.
karakter banyak di bentuk oleh apa yang dilihat, apa yang di dengar dan apa yang di rasakan (menguntungkan), nach untuk itu sebagai guru sangatlah sulit untuk melakukan pendidikan tersebut karena kita harus bersaing dengan berbagai media yang menarik generasi kita seperti televisi, film, internet, dll. Dan lagi karakter yang baik mirip dengan idealisme yang tentu saja sering memiliki resiko yang tidak mengenakkan
Terimakasih atas ulasannya Mas Cahyo,…”Karakter yang baik mirip dengan idealisme yang tentu saja sering memiliki resiko yang tidak mengenakkan.”
Saya rasa tepat sekali pandangan Mas Cahyo.Saya tunggu tanggapannya yang lain.
Salam hangat dariku.
Saya berpikir sebaiknya pendidikan kita tidak usah terlalu mempentingkan nilai dan kelulusan. Apalagi dalam rangka menyukeskan program wajib belajar 9 tahun. Jadi apabila siswa telah menyelesaikan studinya maka ia lulus. Tak perlulah lagi ada UN segala macem.
Nah, satu masukan lagi dari Mas Alfisyahrin. Terimakasih ya. Lalu bagaimana menurut Tamu Istimewa yang lain?
Salam hangat jabat erat dariku.
Salam kenal. pendidikan karakter bangsa memang benar perlu ditata ulang, sebab karakter yg kita kenal dulu seperti bangsa yg ramah-tamah, suka menolong, bergotong -royong, cinta damai, rela berkorban, hidup sederhana,berani menegakan kebenaran dan keadilan, dll, sekarang entah milik siapa. Satu lagi, saya melihat banyak diantara kita yang sudah tidak mau menerima kemungkinan resiko negatif yang muncul sebagai akibat dari suatu keadaan, tindakan atau pekerjaannya,atau banyak yang tidak mau menerima kegagalan atas usahanya, sehingga kegagalan dg berbagai cara disembunyikan lalu membuat rekayasa seolah-olah berhasil, pernah diistilahkan ABS (asal Bpk senang). sekarang bukan ABS lagi tapi demi harga diri untuk menghindari resiko ancaman anarkis (yg telah mengganti karakter musyawarah dan cinta damai)dari pihak yang menuduh sbg penyebab kegagalan. misal, ketika seorang Kepsek atu guru mata pelajaran UN sedang membayangkan apa yang akan terjadi jika hasil UN 20% siswa tidak lulus. Siapkah menerima reaksi (jaman sekarang) dari berbagai pihak? Jika tidak, kira-kira apa yg akan dilakukan? Tindakan yang diambil dari kasus semacam ini pun baik positif atau negatif akan turut membentuk karakter siswa, celakanya kalau melakukan antisipasi negatif, itu pula pendidikan karakter yang diwariskan kepada siswa.
Terimakasih atas tanggapan yang cukup dalam dari Pak Semoel. Kondisi seperti kata bapak, sepertinyas memang yang sedang terjadi di tanah air. Demi kepentingan kepentingan tertentu agaknya. Kajian Pak Semoel akan banyak dipelajari, semoga. Salam hangat jabat erat dariku.
“Guru kencing berdiri, murid kencing berlari!” barangkali itulah ungkapan yang paling mudah untuk menggambarkan suasana batin yang terbangun di dunia pendidikan kita Pak Wid..!!! yang memang secara kultural telah terbangun secara sistemik (wah…rada nggaya pinjem istilahnya menteri keuangan yang tak mau mundur itu!).lalu sekarang apanya yang salah dengan warisan leluhur yang adiluhung itu? apa karena Feodalistik, terlalu membelenggu anak? tidak….tidak…..tidak….!!! kita saja yang kurang bijak mengambil hikmah dari kepingan sejarah embah buyut kita itu. Bisa kuwalat……!!! “Bangsa kerdil adalah bangsa yang kurang ajar kepada para pahlawanya..!”. kita ini sedang tertabrak euphoria imporan segala macem, sehingga warisan luar biasa berharga yang d wariskan leluhur salah kita interpretasi dan hayati. kita menyangka telah mendapatkan sari pati nya tak tahunya ampasnya yang kita telan mentah-mentah. Haaaaaaa haaaaaa haaaaaaaaaa…….! nah tau rasa lo!. yang nemu saripatinya siapa kalo gitu??? tentu bisa sebuah bangsa, seorang presiden, bupati, bayan, waker, hansip, sinden, bahkan santri !!! ck..!ck..! …ck! dan semua orang yang bijaksana mau mengais-ngais ceceran peninggalan diantara puing secara sabar!. Betapa Mudahnya seorang guru mengatakan jangan nyontek padahal skripsinya hasil membeli dan berbagai-bagai contoh tidak konsistenya antara perkataan dan perbuatan yang secara vulgar dipertontonkan oleh sebagian pahlawan tanpa tanda jasa ini. tentu tidak bijak jika saya katakan bahwa guru itu sebagai penanggung jawab tunggal, kita semua pada dasarnya belum mau beranjak dari menjadikan anak-anak kita MESIN menjadi MANUSIA yang tidak hanya bisa membelah langit namun juga isi dalam perutnya…! nuwun……!!
Wah…wah…wah, panjang sekali ya komentarnya.Terimakasih ya Mas, mudah-mudahan masukannya bermanfaat bagi kita semua.Kadang memang guru terpojokkan jika ada keganjilan sedikit saja.Lain halnya jika yang melakukan penyimpangan pihak lain begitu mudah untuk dimaklumi atau dilupakan. Salam hangat dariku.
Ada lagi gak yang bagus seperti ini . 17:47
Terimakasih…..silakan cari di postingan sederhana (baru ada 185 post). Salam hangat dariku.
nyoba kirim komentar malam-malam gini. 03:09
pencerahan lagiiii….. makasi gan 00:02 blog walking plugin can be downloaded blog-walk.com
Terimakasih, andai saya punya plugins “top komentator” pasti Anda meraih the best komentator di blog saya. Silakan kunjungi blog saya yang lain, di sini http://selintas.info/
Salam hangat jabat erat dariku.
Salam Kenal, artikelnya memberi pencerahan pada kami 07:31 blog walking plugin can be downloaded blog-walk.com
nemu artikel keren-keren disini…, ijin untuk bookmark blog anda blog walking plugin can be downloaded blog-walk.com
Salam Kenal. Selama Ujian Nasional masih dilaksanakan seperti saat ini, maka pemebentukan karakter yang diharapkan tidak akan pernah terjadi. Sebab pada prakteknya, para pelaku pendidikan sebelum dan saat UN mengingkari karakater positif yang telah ditanamkan, misal dengan ketidakjujuran……
alam Kenal. Selama Ujian Nasional masih dilaksanakan seperti saat ini, maka pemebentukan karakter yang diharapkan tidak akan pernah terjadi. Sebab pada prakteknya, para pelaku pendidikan sebelum dan saat UN mengingkari karakater positif yang telah ditanamkan, misal dengan ketidakjujuran……
iy memang,, duluwaktu sekolah jg pelajaran BP paling cm set jam,, dan itu g ad yg nyangkut,, hee
kalau mau bnrin muridnya emg harus dr gurunya dl,, biar bs ngasi cntoh kmurid2nya,, smoga aj pendidikan qta bia lebih baik kdpnnya,, amiinn,,
Assalaamu alaikum. Pendidikan Karakter adalah pendidikan yang mementingkan 1. Kejujuran. 2. Kesantunan. 3. Kerajinan. 4. Kekuatan. Dibangun di atas keempat pilar inilah Kecerdasan. Sederhana saj soalnya. Jangan biarkan murid terlanjur cerdas jika belum memiliki keempat sifat di atas.