Beranda > Tokoh Kita > Seandainya Pak Guru Warso Lolos Sertifikasi

Seandainya Pak Guru Warso Lolos Sertifikasi


Menjelang akhir bulan Januari Tahun 2010 ini pendataan guru yang mau ikut sertifikasi sudah dikirimkan oleh setiap sekolah, baik SD, SMP maupun SMA. Baik guru negeri maupun guru swasta. Kabar-kabarnya kuota untuk kriteria S1 ada kenaikan berapa persen begitu.

Ah, ada perasaan optimis di hati Pak Guru Warso, soalnya dia  sudah didaftarkan oleh kepala sekolahnya beberapa hari yang lalu. Tinggal menunggu hasil seleksi tingkat kabupaten. Mungkin awal Februari nanti sudah bisa diumumkan hasilnya. Sudah empat kali periode seleksi beliau gagal terus alias tidak lolos . Aku sendiri baru sekali ini ikut seleksi, maklum masih terhitung guru muda…..hehehe.

Dalam hati Pak Guru Warso berdoa mudah-mudahan periode kali ini dia lolos sertifikasi lalu dapat tunjangan satu kali gaji. Wuih….membayangkan saja rasanya sudah senang sekali.Tapi.. Eit! tunggu dulu….ternyata pesertanya banyak sekali. Apalagi ada tambahan lulusan S1 perguruan tinggi sekian ribu  yang kebanyakan sudah usia tua semua. Begitu lulus dan diwisuda bulan Oktober 2009 kemarin ini langsung  mendaftarkan diri.

Kalau melihat peserta sebanyak itu… Pak Guru Warso  jadi pesimis. Sungguh, karena umurnya tergolong ‘makah’, artinya ikut golongan tua ya jelas ditolak karena umurnya kurang tuaan dikit ( masih balita tuh-bawah limapuluh tahun…hehehe). Nah, kalau digolongkan usia muda juga nggak juga dan jelas disangsikan wong sudah kelihatan ubanan…hehehe. Sambil nunggu koneksi internet normal kembali Pak Guru Warso duduk melamun di depan komputer bututku. Ah….andaikata saya nanti lolos sertifikasi….betapa bahagia. Sungguh saya akan amat bersyukur, batinnya. Lalu lamunannya makin dalam …semakin dalam dan makin dalam jauh ke lubuk hati yang paling dalam (kayak acaranya Tomy Rafael di TV yang lagi hipnotis orang…hehehe).

Uang tambahan yang satu kali gaji nanti kira-kira buat apa sih Pak? Pak Guru Warso mengernyitkan dahinya. Kira-kira ya buat….ha! ya ..beliau ingat sesuatu, lalu beliau mengeluarkan selembar kertas dilipat kecil yang sudah kelihatan lusuh, lalu dibukanya. Saya yang duduk di sebelahnya melongokkan kepala, ada beberapa catatan kecil yang agak tidak begitu jelas terbaca. Pak Guru Warso agaknya memperbolehkan saya melihat langsung isi catatannya. Oh, ternyata Ini isinya ( kelihatannya kok panjang..?)

Seandainya lolos sertifikasi dan dapat tunjangan satu kali gaji, maka:

  1. Yang pertama jelas bersyukur kepada Allah SWT.
  2. Mencium istri dan ketiga anakku. Berkat doa mereka yang tiada henti saya bisa lolos sertifikasi.
  3. Membeli seekor kambing lalu dipotong buat syukuran tetangga se-RT dan teman sekolah semua.
  4. Menyumbangkan sebagian uang sertifikasi buat sarana ibadah di lingkungan RT.
  5. Membelikan baju seragam batik buat teman-teman sekolahku.
  6. Membelikan sepeda mini untuk anak tertuaku yang masih SD.
  7. Membeli sepeda onthel untuk jalan-jalan refressing.
  8. Membelikan baju koko, sarung, peci dan mukenah buat kedua orang tua.
  9. Membelikan kalung buat ibuku tersayang.
  10. Membelikan giwang yang lama kujanjikan buat istriku tercinta.
  11. Memperbaiki rumah yang dindingnya masih ‘gedheg’ bolong-bolong.
  12. Membeli sepeda motor baru biar transportasi lancar. Sepeda motor lama biar buat kenangan saja.
  13. Membeli laptop baru core 2 duo buat kerja dan pembelajaran di sekolah.
  14. Memasang jaringan internet di rumah biar nggak katrok.
  15. Langganan koran biar keluarga nggak ketinggalan informasi.
  16. Meningkatkan kinerja dan dedikasi agar benar-benar professional.
  17. Melunasi semua hutang di bank, koperasi, BMT dan tetangga sebelah.
  18. Meng…………. !

Ah, belum habis saya membaca semua tulisannya, Pak Guru Warso sudah melipat kembali kertas itu. “ Jangan dibaca semua Dik Widodo, nanti saya kan jadi malu.”ujarnya sambil tersenyum. Tanpa terasa saya terpengaruh tulisan di lipatan kertas  tadi. Ternyata impian dan harapan Pak Guru Warso persis sama dengan apa yang selama ini saya impikan namun belum bisa terlaksana.  Ah, impian beliau menggugah nurani saya yang paling dalam. Semua yang tertulis di kertas itu sebenarnya mirip juga dengan apa yang menjadi impian dan harapanku.

Saat saya memandang Pak Guru Warso, nampak matanya menerawang jauh. Sedang di bibirnya tersungging senyuman. Seandainya….Oh, impian memang sungguh manis menjanjikan. Tanpa kusadari mata saya berkaca-kaca melihat harapan dan kebahagiaannya. Apa yang ia rasakan seolah aku pun dapat merasakannya. Meskipun itu kebahagiaan semu alias fatamorgana. Saya sendiri heran kenapa beliau tidak lolos sertifikasi, padahal beliau termasuk guru senior meskipun usia belum terlalu tua. Beliau mengajar kelas tinggi terus, juga menjadi pemandu KKG di kecamatan, bahkan pernah terpilih jadi guru berprestasi di kecamatan dua tahun berturut-turut. Aku akhirnya kini merasa trenyuh melihatnya. Begitu sabar dan penuh optimisme. Sungguh, hampir menangis saya memandangnya.

“ Kenapa Dik Widodo seperti mau menangis?” pertanyaannya menyadarkanku dari pesona Pak Guru Warso.

”Ah, tidak kok Pak.” Ujarku sambil memalingkan muka untuk membuang rasa malu ketahuan.

“Jangan berbohong, Dik Widodo! Laki-laki nggak boleh cengeng apalagi menangis. Dik Widodo, tolong ya ingat-ingatlah kata-kataku ini : “Janganlah kau menangis karena miskin, menangislah kau karena dosa!”

Sungguh…kata-katanya bagaikan petir di siang bolong. Singkat namun sarat makna. Dalam hati aku memuji Pak Guru Warso. Di balik sosoknya yang sederhana tersimpan rahasia hati yang bijak dan bersahaja, dijalaninya hidup dengan penuh rasa optimis .Semoga aku bisa mencontoh suri tauladannya.

Categories: Tokoh Kita Tag:
  1. 28 Januari 2010 pada 16:02 | #1

    Salam buat Pak Guru Warso

  2. 28 Januari 2010 pada 16:50 | #3

    Banyak yang sama dengan pak guru warso

  3. 28 Januari 2010 pada 16:53 | #4

    dengan sertifikasi, banyak guru pada beli leptop, pasang internet…terus go-blog
    kita tunggu kedatangan pak warso-warso lain yang memiliki komintmen untuk memajukan kompetensinya
    salam untuk pak warso dari kalimantan

  4. dwi
    29 Januari 2010 pada 11:14 | #6

    ikut mendoakan,…

  5. 30 Januari 2010 pada 00:20 | #8

    Selamat malam pak Rachmad!

    lagi-lagi kisahnya membuat saya merinding.. :D , semoga sukses untuk pak Warso, mungkin saya belum punya pengalaman, tapi kata orang.. asal tujuannya baik, dan kita berusaha dan berdoa pasti yang diatas merestui :) sehingga jalan akan dibukakan

    -Mikahontas-

    • 30 Januari 2010 pada 05:59 | #9

      Tiga kata kunci : tujuan baik, berusaha, berdoa.Terimakasih Mas Mika.
      Salam hangat dariku, jangan merinding lagi ya…..hehehe

  6. 30 Januari 2010 pada 04:13 | #10

    “Janganlah kau menangis karena miskin, menangislah kau karena dosa!” wah kata kata yg dalam banget mas!

  7. 31 Januari 2010 pada 03:26 | #12

    Sepertinya yang dialami oleh Pak Guru Warso, hampir sebagian besar juga dialami oleh guru-guru dinegeri ini. Menyedihkan, tanpa guru emang kita bisa seperti sekarang ?

  8. 31 Januari 2010 pada 13:24 | #14

    Wah, benar-benar salut dengan Pak Guru Warso, saya harap sertifikasinya lulus dan semua cita-citanya dapat dilaksanakan, amin….

  9. 1 Februari 2010 pada 00:36 | #16

    Tetap bersemangat, Pak. Suatu saat pasti giliran akan datang.

    • 1 Februari 2010 pada 05:58 | #17

      Pak Guru Warso dan saya tetap sabar dan semangat, minimal tahun 2015 sudah tuntas (kabarnya).
      salam hangat jabat erat dariku Pak.

  10. 1 Februari 2010 pada 03:43 | #18

    semoga saya juga bisa mencontoh beliau pak.. amiiinn…

  11. Kaprawi Imyuh
    12 Februari 2010 pada 17:02 | #19

    Salam hormat buat pak widodo,impian pak widodo sama dengan saya, saya diangkat menjadi guru SD maret 1977,pahit getir menyebrang bersepeda berperahu naik motor jadi guru terpencil sekolah kecil kepala sekolah semua sudah kualami mulai dari ujian bersih sampai ujian kotor, sampai saya berkata jika gaji saya 5 juta saya mau tidur dibawah papan tulis ternyata setelah saya lulus sertifikasi dan menikmati uang gaji sertifikasi malah anak anak yang mals belaajar,bukan guru,karena pengaruh lingkungan paktor orang tua daan siswa dimanjakan dengan serba gratis ortu malas membeli buku padhal buku itu gudangnya ilmu, memaang buku dibagikan tapi terbatas hanya di kelas , pak widodo impian bapak jadi kenyataan, saya alhamdulillah uang sertifikasi buat menunaikan ibadah haji sama isteri,tahun 2010. Salam hormat buat rekan rekan guru yang sudah sertifikasi yang belum ihlaskan baktimu buat anak bangsa nasib bangsa adaa ditangan para guru seperti pak winarso dan saya, Kau kenang wahai guruku kAU PATUT DIGUGU DAN DITIRU NASIB BANGSA DIPUNDAKMU WAHAI KOLAGAKU BIARLAH KITA MENJADI GURU SAMPAI PENSIUN .PAK PRESIDEN KAU BISA NULIS BACA KARENA KAMI, TOLONG PIKIRKAN NASIB KAMI JANGAN JUAL BANGSA INI WAHAI WAKIL RAKYAT JANGAN BODOHI KAMI KAMI INI TIDAK AKAN JADI APA APA TAPI ANDA BISA MENJADI SIAPA.

    • 13 Februari 2010 pada 22:40 | #20

      Terimakasih atas pencerahan dari Bapak Kaprawi Imyuh, sungguh menggugah.
      salam hangat jabat erat dariku. dapat salam juga dari Pak Guru Warso.

  12. 9 Maret 2010 pada 00:45 | #21

    siap-siap meluncur 17:45

  13. 9 Maret 2010 pada 10:06 | #23

    nyoba kirim komentar pagi-pagi gini. 03:06

  14. 19 Maret 2010 pada 14:29 | #24

    Numpang jalan-jalan :) 07:29 blog walking plugin can be downloaded blog-walk.com

  15. 1 Juni 2010 pada 11:19 | #25

    salam, saya suka dengan ulasan dan gaya penulisan anda, edukatif dan sangat menambah kasanah dunia pendidikan, semoga saya bisa mencontoh anda dalam memberikan pemikiran dan saran bagi sesama, semoga sukses selalu.
    @ beasiswa 2010 Indonesia.

  16. 25 Juni 2010 pada 10:38 | #26

    moga sukses om

  17. ade
    27 Juni 2010 pada 09:38 | #27

    thx y infonya.. ^^

  18. 18 Agustus 2011 pada 05:35 | #28

    numpang lewat mas…, apakah pak warso disini pak warso guru smp yang di tegal….

  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.