Beranda > Pembelajaran > Model Pembelajaran Baca Peragakan

Model Pembelajaran Baca Peragakan


Model Pembelajaran Baca Peragakan merupakan salah satu sub bagian dari Model Pembelajaran Membaca pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Sub bagian yang lain dari model pembelajaran Membaca yaitu : Baca Rangkum, Baca Ceritakan, Baca Susun Pertanyaan, Baca Jawab Pertanyaan, Baca Parafrasekan dan Baca Ubah.

Model pembelajaran Baca Peragakan merupakan pembelajaran lanjutan dari model pembelajaran baca jawab pertanyaan. Dalam pembelajaran ini focus pembelajaran terletak pada kompetensi siswa dalam mengungkapkan isi bacaan ke dalam bentuk gerakan/peragaan. Pada kelas rendah materi bacaan bisa berupa kalimat-kalimat perintah, petunjuk atau saran untuk melakukan sesuatu, sedang di kelas tinggi bisa berupa gerakan dan percakapan yang apabila diperagakan akan seperti drama, sandiwara atau bermain peran dengan terlebih dahulu pembelajarannya diawali dengan membaca (mengahapal teks/dialog).

Salah satu contoh langkah-langkah pembelajarannya, sebagai berikut :

  1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran/KD.
  2. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok beranggotakan 3-4 siswa.
  3. Guru menyiapkan scenario/naskah  dengan tema cerita yang menarik.
  4. Setiap kelompok mendapatkan materi/teks bacaan yang berbeda-beda.
  5. Setiap anggota kelompok membaca naskah/teks bacaan dan menghapalkannya sesuai dengan masing-masing peran.
  6. Tiap-tiap kelompok menampilkan/memperagakan apa yang tertulis di dalam scenario/teks bacaan.
  7. Guru menunjuk kelompok yang lain untuk menampilkan naskah/teks bacaan yang lain pula.
  8. Demikian seterusnya sampai seluruh kelompok tampil memperagakan teks bacaan/scenario.
  9. Evaluasi.
  10. Kesimpulan.

Kemampuan membuat desain pembelajaran merupakan fokus kompetensi yang harus dikuasai sebagai seorang guru yang benar-benar profesional. Alasannya, kemampuan mendesain pembelajaran sangat berkaitan langsung dengan pelaksanaan tugas guru di lapangan sebagai pemegang kendali proses pembelajaran yang berlangsung di dalam kelas.
Tidak ada metode pembelajaran Membaca yang demikian sempurna, maka seorang Guru diharapkan untuk mampu memilah dan memilih serta menentukan media dan metode pembelajaran yang paling relevan dengan tujuan dan situasi yang dihadapinya di kelas.

Demikianlah, mudah-mudahan postingan ini dapat menambah khasanah pembelajaran bahasa Indonesia kita sehingga pembelajaran bahasa Indonesia yang dirancang Bapak/Ibu Guru dapat lebih bervariatif, lebih bermakna, menantang namun juga menyenangkan.

Majulah Pendidikan Indonesia!

Silakan melanjutkan postingan berikutnya : Model Pembelajaran Baca Parafrasekan, dengan mengklik di sini.


  1. 1 Februari 2010 pukul 13:33

    Nice artikel. Semoga dunia pendidikan kita kian maju
    Trims

    • 1 Februari 2010 pukul 14:01

      Terimakasih Pak Ratno. Jadi bangga nih blog saya dikunjungi senior ngeblog.
      Salam hangat jabat erat dariku Pak Ratno.

  2. ade
    27 Juni 2010 pukul 10:21

    thx y infonya.. ^^
    saya senang membaca blog ini,
    sangat bermanfaat..🙂

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: