Archive

Archive for the ‘Pembelajaran’ Category

Buku Referensi Model Pembelajaran Kooperatif

7 Oktober 2011 126 komentar

Dengan rasa penyesalan yang mendalam saya sampaikan maaf beribu maaf kepada para sahabat,visitor dan komentator di blog ini yang barangkali telah sekian lama menanti buku referensi mengenai Model Model Pembelajaran Kooperatif seperti Pairs Check, Jig Shaw, Scrambel, Talking Stick, dsb. Namun baru saat ini bisa saya sampaikan.

Sebenarnya postingan saya mengenai model-model pembelajaran tersebut bersumber dari materi workshop ToT Guru Pemandu KKG SD in service 2 di LPMP Jawa Tengah/Semarang. Setelah saya share di blog ini ternyata mendapat sambutan positif dari para tamu istimewa. Jadi bukan bersumber dari sebuah buku. Namun saya berusaha mencari dan mencari buku-buku yang bisa menjadi referensi dari model pembelajaran tersebut.

Dan alhamdulillah….pada kesempatan ini akhirnya saya baru bisa menyampaikan beberapa buku referensi mengenai model pembelajaran kooperatif. Mudah-mudahan masih dapat diterima dan walaupun sedikit tetap ada manfaatnya. Baca selanjutnya…

Google Earth Sebagai Media Pembelajaran

16 Januari 2010 50 komentar

1. Pendahuluan

Google EarthKTSP 2006 atau yang disebut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan telah mengisyaratkan bahwa lulusan suatu sekolah diharapkan memiliki kompetensi tertentu sebagaimana yang telah diamanatkan oleh kurikulum. Oleh karena tuntutan kurikulum tersebut berdampak langsung pada proses pembelajaran, maka proses pembelajaran diharapkan tidak hanya membelajarkan aspek pengetahuan saja, tetapi juga meliputi aspek ketrampilan dan aspek sikap. Terkait dengan tujuan tersebut, maka proses penilaian tidak hanya terbatas pada aspek hasil saja, tetapi aspek proses hendaknya juga tidak luput dari penilaian.

Di dalam struktur program kurukulum Sekolah Dasar, terdapat beberapa mata pelajaran, satu di antaranya adalah Ilmu Pengetahuan Sosial yang dalam hal ini sebagai salah satu mata pelajaran yang diUASkan ( Tim Penyusun Silabus, 2005:47 ) dan di masa mendatang bukan tidak mungkin diUASBNkan. Baca selanjutnya…

11 Indikator Pembelajaran PAKEM (Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan)

13 Januari 2010 44 komentar

KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) mengisyaratkan bahwa proses pembelajaran yang ideal adalah pembelajaran yang dapat merangsang peserta didik untuk dapat mengungkapkan segala potensi dirinya untuk dapat meraih sekian kompetensi sesuai dengan bakat dan minatnya, bukan sebaliknya hanya disuapi oleh guru dengan segala macam pengetahuan. Pembelajaran yang bermakna juga demikian, mengedepankan pengembangan potensi peserta didik, sehingga pembelajaran bukan bersumber atau terfokus pada guru, melainkan berfokus dan terpusat pada peserta didik. Proses pembelajaran yang demikian idealnya dilakukan dengan cara yang santun dan menyenangkan. Bukan dengan doktrinisasi dan intimidasi/tekanan. Sehingga dapat dikatakan pembelajaran tersebut adalah pembelajaran ramah anak atau dengan prinsip asah, asih, asuh. Ada sebelas indikator/tolok ukur bahwa pembelajaran dapat dikategorikan sudah PAKEM, yaitu : Baca selanjutnya…

Membangun Learning Community Menuju Sekolah Berprestasi

10 Januari 2010 16 komentar

A.  Pendahuluan

Learning Community merupakan suatu komunitas belajar di lingkungan sekolah di dalamnya berlangsung proses belajar membelajarkan antara siswa-siswa, guru-siswa, guru-guru, guru-kepala sekolah, sekolah-masyarakat.  Meskipun definisi ini mudah diucapkan dan dihafalkan, tetapi untuk mengimplementasikannya diperlukan pemahaman dan pengahayatan yang mendalam, bahkan memerlukan reformasi pandangan guru.

Selama ini berlaku pandangan bahwa tugas guru mengajar, mendidik, dan tugas siswa belajar. Di berbagai kesempatan kepala sekolah atau guru senantiasa memberi nasehat kepada siswanya bahwa siswa harus belajar. Tugas siswa belajar dan belajar agar diperoleh prestasi tinggi dan lulus ujian. Jika siswa berprestasi dalam ujian maka prestasi sekolah akan meningkat.

Akibat prestasi ujian sekolah dikaitkan dengan prestise sekolah, maka hampir semua kepala sekolah dan pejabat (Diknas, Gubernur, Bupati) berupaya keras agar semua siswa lulus ujian dan berprestasi dalam ujian nasional. Sekolah yang persentase kelulusannya tinggi dan rangking nilainya tinggi menjadi sekolah berprestasi. Sebaliknya jika persentase kelulusannya rendah atau rangking nilainya rendah merupakan sekolah yang tidak berprestasi. Baca selanjutnya…

Reformasi Sekolah Dalam Membangun Komunitas Belajar

9 Januari 2010 9 komentar

A. Pendahuluan

Menurut Kepala Institut Penelitian Pendidikan Prof Dr. Tadahiko Inahaki, sekitar 50 tahun yang lalu yakni setelah kalah perang, ekonomi Jepang sangat buruk. Bangsa Jepang miskin. Untuk bangkit dan memajukannya, yang paling utama adalah meningkatkan pendidikan (kita ingat, pertanyaan pertama dari Kaisar setelah Jepang di bom oleh Amerika Serikat : “Ada berapa guru yang masih hidup?”). Untuk itu, Pemerintah Jepang mengeluarkan undang-undang untuk meningkatkan pembelajaran IPA di sekolah-sekolah. Konsekuensinya, Pemerintah Jepang harus mengeluarkan anggaran untuk mengadakan peralatan di sekolah. Jadi fasilitas pembelajaran terpenuhi. “Apakah guru Jepang memanfaatkan fasilitas tersebut, itu soal lain”, kata Inahaki pada pertemuan dengan para peserta counterpart training dari Indonesia. Artinya, kelengkapan peralatan tidak menjamin digunakannya peralatan tersebut oleh guru sehingga meningkat pula kualitas pembelajarannya.

Sejak saat itu terjadilah persaingan siswa untuk memasuki sekolah pada jenjang lebih tinggi. Untuk dapat bersaing mengikuti tes dan lulus dengan memuaskan, siswa harus menguasai materi pelajarannya. Maka dalam proses pembelajaran yang dipentingkan adalah hafalan. Jadi meskipun sejak tahun 1952 fasilitas pembelajaran IPA lengkap dan baik, tetapi ternyata guru kurang memanfaatkannya. Bagi guru, yang penting siswanya lulus ujian dengan nilai baik. (sepertinya serupa dengan kondisi pendidikan di Indonesia sekarang ini). Baca selanjutnya…

Penilaian Kelas

5 Januari 2010 8 komentar

Dra Endang Siwi Ekoati

Setelah saya sampaikan postingan sebelumnya Penilaian Mapel Bahasa Indonesia Berbasis Kelas, kini akan saya sampaikan Penilaian Kelas dari beberapa mata pelajaran yang meliputi baik pengertian, jenis, tujuan, cara maupun fungsi dari penilaian kelas. Postingan ini saya sarikan dari Materi ToT Guru Pemandu KKG in service 2 di LPMP Jawa Tengah yang disampaikan oleh Narasumber LPMP Jawa Tengah Dra. Endang Siwi Ekoati. Banyak peserta workshop yang terkesan dengan penampilan Bu Endang pada waktu itu. Tutur katanya yang halus, senyumnya yang tulus dan penguasaan kelas yang baik membuat saya dan peserta yang lainnya merasa betah mengikuti jalannya sesion dari awal hingga akhir tanpa merasa bosan atau mengantuk. Habis Beliau sering bercanda untuk membuang kejenuhan. O ya, postingan ini hanya sekedar refressing saja, maka bagi tamu istimewa blog ini  yang mungkin telah mendalami dan memahami bisa saja beralih ke postingan saya lainnya yang sekiranya berkenan di hati.

STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN

Terdiri atas :

  1. penilaian hasil belajar oleh pendidik.
  2. penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan.
  3. Penilaian hasil belajar oleh Pemerintah. Baca selanjutnya…
Kategori:Pembelajaran Tag:

Penilaian Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Berbasis Kelas

25 Desember 2009 30 komentar

A. Pendahuluan

Keberhasilan suatu pembelajaran ditentukan oleh perencanaan, proses dan evaluasi. Ketiga hal ini harus dipersiapkan secara matang agar terjadi proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Artinya, semua KD dapat disampaikan secara tepat sesuai dengan tuntutan kurikulum.

Evaluasi pembelajaran menjadi bagian yang tak terpisahkan pada proses belajar mengajar (PBM). Dalam konteks KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) evaluasi berfungsi;  (1) untuk menilai keberhasilan siswa dalam pencapaian kompetensi, (2) sebagai umpan balik untuk perbaikan proses pembelajaran (Wina Sanjaya, 183:2005)

Menurut Guba dan Lincoln dalam (Wina Sanjaya, 181:2005), menyatakan bahwa evaluasi merupakan proses memberikan pertimbangan mengenai nilai dan arti sesuatu yang dipertimbangkan (evaluand). Sesuatu yang dipertimbangkan itu bisa berupa orang, benda, kegiatan, keadaan, atau sesuatu kesatuan tertentu.

Karakteristik evaluasi sesuai konsep di atas mengandung pengertian  bahwa evaluasi merupakan suatu proses dan berhubungan dengan pemberian nilai atau arti. Sebagai suatu proses, pelaksanaan evaluasi seharusnya berupa tindakan yang harus dilakukan. Dengan demikian, evaluasi bukan sekadar produk atau hasil, melainkan rangkaian kegiatan. Sebagai pemberian nilai atau arti, evaluasi harus menunjukkan kualitas yang dinilai.

Evaluasi berbeda dengan pengukuran. Pengukuran (measurement) pada umumnya berkenaan dengan masalah kuantitatif untuk mendapatkan informasi yang diukur. Oleh karena itu, dalam proses pengukuran diperlukan alat bantu tertentu. Untuk mengukur berat badan diperlukan timbangan, untuk mengukur IQ, digunakan tes IQ. Baca selanjutnya…