Beranda > Pembelajaran > Model Pembelajaran Inside-Outside-Circle (Spencer Kagan)

Model Pembelajaran Inside-Outside-Circle (Spencer Kagan)


Model Pembelajaran Inside- Outside- Circle (Lingkaran Kecil-Lingkaran Besar) merupakan model pembelajaran dimana “Siswa saling membagi informasi pada saat yang bersamaan, dengan pasangan yang berbeda dengan singkat dan teratur”. Pembelajaran ini lebih leluasa dilaksanakan di luar kelas, atau tempat terbuka. Karena mobilitas siswa akan cukup tinggi, sehingga diperlukan perhatian ekstra. Namun demikian jika jumlah siswa  tidak terlalu banyak bisa juga dilaksanakan di dalam kelas. Adapun informasi yang saling berbagi merupakan isi materi pembelajaran yang mengarah pada tujuan pembelajaran. Misalnya pada mapel Bahasa Indonesia tentang unsur-unsur cerita. Sebagian siswa mempelajari tokoh-tokoh cerita, sebagian siswa yang lain mempelajari sifat/watak tokoh, latar cerita atau amanat/pesan cerita.  Pada saat nanti berbagi informasi, maka semua siswa akan saling memberi dan menerima informasi pembelajaran. Tujuan model pembelajaran ini adalah melatih siswa belajar mandiri dan belajar berbicara menyampaikan informasi kepada orang lain. Selain itu juga melatih kedisiplinan dan ketertiban.

Langkah-langkah pembelajarannya sebagai berikut :

  1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran/KD.
  2. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok beranggotakan 3-4 orang.
  3. Tiap-tiap kelompok  mendapat tugas mencari informasi berdasarkan pembagian tugas dari guru ( misal : latar cerita, tokoh cerita, watak tokoh, pesan/amanat, dsb).
  4. Setiap kelompok belajar mandiri, mencari informasi berdasarkan tugas yang diberikan.
  5. Setelah selesai, maka seluruh siswa berkumpul saling membaur (tidak berdasarkan kelompok).
  6. Separuh kelas lalu berdiri membentuk lingkaran kecil dan menghadap keluar.
  7. Separuh kelas lainnya membentuk lingkaran di luar lingkaran pertama, menghadap ke dalam.
  8. Dua siswa yang berpasangan dari lingkaran kecil dan besar berbagi informasi. Pertukaran informasi ini bisa dilakukan oleh semua pasangan dalam waktu yang bersamaan.
  9. Kemudian siswa berada di lingkaran kecil diam di tempat, sementara siswa yang berada di lingkaran besar bergeser satu atau dua langkah searah jarum jam.
  10. Sekarang giliran siswa berada di lingkaran besar yang membagi informasi. Demikian seterusnya, sampai seluruh siswa selesai berbagi informasi.

Demikianlah, mudah-mudahan postingan ini dapat menambah khasanah pembelajaran kita sehingga pembelajaran yang dirancang Bapak/Ibu Guru dapat lebih bervariatif, lebih bermakna, menantang sekaligus menyenangkan.

Majulah Pendidikan di Indonesia!

  1. imen
    9 Januari 2010 pada 00:33 | #1

    bisa diterapkan dalam mata pelajaran penjasorkes???

    • wyw1d
      9 Januari 2010 pada 10:44 | #2

      Bisa saja. Tentunya informasi yang diberikan berupa materi bidang Penjasorkes (permainan, perwasitan,skor, lomba, kesehatan,dsb).
      Terimakasih atas kunjungannya.

  2. rstybun
    19 Januari 2010 pada 08:38 | #3

    bisa lebih dikomplitin ga landasan teorinya?

    • wyw1d
      19 Januari 2010 pada 10:03 | #4

      Terimakasih atas tanggapannya. Materi ini saya dapatkan saat mengikuti ToT Guru Pemandu di LPMP Jawa Tengah. Landasan teori lebih lengkap dapat Anda dapatkan dalam Buku referensi yang cukup relevan yang dapat saya sampaikan yaitu : 1. Mempraktikkan Cooperatif Learning di Kelas Kita- Penulis Anita Li, PT Grasindo. 2. Model Pembelajaran Inovatif-Penulis Udin S.Winataputra, penerbit Universitas Terbuka.

  3. shery
    2 Februari 2010 pada 15:12 | #5

    bisa nggak untuk matematika

  4. 2 Februari 2010 pada 15:45 | #6

    Bisa saja Mbak Shery, namun informasi yang diberikan memang tak sebanyak pada mapel selain matematika. Misalnya tentang bangun ruang (macamnya, gambarnya, luas selimut, volumenya, dsb). Terimakasih ya Mbak atas kunjungannya.

  5. ninis
    16 Februari 2010 pada 09:25 | #7

    kalau diterapkan dalam mata pelajaran bahasa jerman bagimana?bisa dikasih contoh konkrinya gak?makasih

  6. 16 Februari 2010 pada 12:44 | #8

    Saya rasa bisa Mbak Ninis, contohnya silakan lihat materi dalam kurikulum bahasa Jerman. Saya kebetulan belum menguasai dan tidak mengajar bahasa Jerman.Terimakasih kunjungannya ya.

  7. ninis
    19 Februari 2010 pada 11:33 | #9

    dalam permainan ini siswa melakukan diaolog atau monolog?

  8. 19 Februari 2010 pada 11:42 | #10

    Bisa kedua-duanya Mbak Ninis. pada tahap awal mungkin monolog (siswa dalam lingkaran kecil diam menerima informasi dari siswa lingkaran besar), nanti setelah selesai semua gantian lingkaran kecil bergeser menjadi lingkaran besar dan memberikan informasi. Nah, dengan dialog proses transformasi informasinya diharapkan lebih efektif dan bermakna daripada monolog. Demikian Mbak Ninis, selamat berkreasi ya. Salam hangat dariku.

  9. mala
    19 Maret 2010 pada 10:09 | #11

    ada yang sudah meneliti metode ini belum ya? saya butuh referensi untuk penelitian yg relevan. terimakasih

  10. hasan
    4 April 2010 pada 11:48 | #12

    bisa gak untuk speaking dalam bahasa inggris

  11. nur azizah
    22 Oktober 2010 pada 11:55 | #14

    terima kasih pak, sangat bermanfaat.. tapi apakah bisa diaplikasikan pada tingkat SD/MI pak ?

  12. pak agung
    10 November 2010 pada 21:31 | #15

    pak saya mau tanya, bisa ngak diterapkan pada pembelajaran bahasa indonesia, khususnya pada materi membaca cepat.mohon bantuannya. terima kasih.

  13. deviyanti
    15 Desember 2010 pada 07:34 | #16

    pak,AKu belum menemukan referensi untuk metode ini,bs gak bapak kirimkan judul buku yang isinya tentang metode ini,

  14. deviyanti
    15 Desember 2010 pada 17:38 | #17

    pak,aku mau tanya apa ada buku tersendirix untuk model IOC,klo iya tlong kirimkan sapa penulisnya dan penerbitnya

  15. agung
    1 Februari 2011 pada 19:53 | #18

    deviyanti: ada kok di bukunya SUPRIJONO “COOPERATIVE LEARNING” masih banyak ditoko buku, terus anita lie juga masih ada.

  16. 9 Juni 2011 pada 18:13 | #19

    kalau buku yang oenulisnya spencer kagan masih ada nda? siapa penerbitnya?

  17. saiful
    23 Januari 2012 pada 14:49 | #20

    ioc ini merupakan strategi/pendekatan/model pembelajaran?

  18. nina
    3 April 2012 pada 13:56 | #21

    kalo dalam pelajaran Bhs. Inggris memungkinkan dalam bentuk yg seperti apa?

  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.